Berdiri diantara Dua Kutub

“Dan demikian pula Kami menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu”. (an Nisa: 171)

Dalam pergaulan antar bangsa kita mengenal dua blok raksasa, yaitu barat dan timur. Barat diwakili oleh Amerika Serikat, sedangkan blok timur dengan komandan Rusia atau Uni Sovyet. Dua kekuatan adi daya ini yang memengaruhi kehidupan sosial politik dalam kehidupan global.

Dalam perpolitikan di tanah air, kita juga mengenal ekstrim kiri dan kanan. Sejak sebelum orde baru hingga sekarang. wajah berbangsa dan bernegara masih dipengaruhi oleh saling tarik menarik dua kekuatan partai politik.

Dalam khasanah bermasyarakat, kedua ekstrim diperlukan sebagai ujud demokrasi. Sebuah sarana dalam rangka usaha keadilan. Tidak baik, bila bandul demokrasi akan berada pada sisi tertentu. Masyarakat tengah (yang tidak menjadi aliansi terhadap blok tertentu) harus diciptakan sebagai kekuatan yang netral.

Jangan sampai penyakit (ghuluw) menghinggapi umat Islam. Ghuluw (sesuatu yang berlebihan) merupakan puncak dari kepongahan, kesombongan akibat dari lalai menginjak tanah. Orang yang sudah terjerat Ghuluw merasa bahwa dirinya berada dalam kutub tertentu. Ia berani berbuat semena-mena karena tidak ada yang berani menegur. Hanya berada di pojok saja. Sehingga ia merasa tidak ada lawan. Inilah yang dikhawtirkan oleh Rasulullah, sebagai tanda-tanda zaman akan berakhir.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, bersikap moderat sangat diperlukan. Sikap ini mampu menempatkan diri pada situasi perbedaan dan keragaman, yang memang sudah menjadi sunatullah. Hidup dalam dekapan kebinekaan suku, bahasa, budaya dan keanekaragaman lainnya, menginjak di daerah pertengahan akan mampu meredam dalam perbedaan. Bila tidak bersikap moderat, maka akan sulit dihindari gesekan-gesekan karena perbedaan.

Bersikap moderat, sebenarnya telah dicontohkan ulama-ulam terdahulu saat menyampaikan dakwahnya. Mereka, dalam Bahasa Jawa istilahnya “ngeli ning ora keli”. Selalu menyesuaikan dengan kebudayaan setempat, tanpa menghilangkan pondasi Agama. Mereka bahkan menuturkan risalah agama dengan Bahasa dan budaya setempat. Oleh karenanya tidak heran manakala kegiatan keagamaan antar daerah memiliki citra rasa sendiri-sendiri.