Berharap pada Pelatihan

Harus diakui bahwa kehadiran motivator sedikit banyak akan mempenaruhi perubahan sikap. Munculnya pelatihan-pelatihan motivasi membuat sedikit terperangah. Selama ini, yang hidup begitu tenang, adem, ayem, tentrem, tiba-tiba dibangkitkan untuk menggerakkan hati agar memiliki semangat. Orang lain sudah berlari, kita masih mau bangun tidur.

Pelatihan motivasi, yang beberapa waktu lalu marak, dengan maksud agar tempat kerja menjadi bercahaya dan berwarna. Berpendarnya warna menghiasi setiap dinding berhias  pelangi. Dengan harapan agar pekerja ataupun karyawan yang semula ogah-ogahan untuk melakukan pekerjaan yang ringan, menjadi semakin giat dalam melaksanakan pekerjaan.

Pelatihan motivasi dapat diibaratkan pengisian bahan bakar atau pengisian tenaga listrik pada baterai gawai. Pekerja diharapkan mencapai prestasi tertentu. Sehingga dapat meningkatkan mutu lembaganya. Secara simultan, pekerja juga akan mendapatkan kenaikan pendapatan.

Banyak faktor yang membuat mereka merasa jenuh dan lelah sehingga kurang antusias dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, apalagi kalau itu sudah merupakan rutinitas. Rasa bosan sangat wajar timbul setelah mereka menghabiskan seharian. Pimpinan harus peka terhadap situasi ini sehingga segera melakukan terobosan dengan mengadakan pelatihan motivasi.

Kiat-kiat motivator dalam menggembleng peserta tidak ada habisnya. Selalu ada trik agar pelatihan berjalan lebih menarik. Selalu ada humor ditengah-tengah pelatihan. Tak dipungkiri akan menimbulkan gelak tawa. Rasanya semakin berbobot nilai pelatihan motivasi. Peserta terlihat antusias untuk mengikutinya. Di akhir sesi terlihat puas.

Apakah dalam realita demikian? Jawabnya kembali pada budaya kerja di masing-masing lembaga tersebut. Andai setelah melaksanakan pelatihan, kinerjanya sama seperti sebelum pelatihan, berarti gagal pelatihannya. Kecuali sang manajer dapat menerapkan materi ke dalam bentuk tugas-tugas yang lebih rinci. Kegembiraan dalam pelatihan dapat dimanifestasikan ke dalam pekerjaan. Karena motivasi memiliki tiga elemen.

Pertama, Aktivasi. Materi-materi pelatihan hendaknya disubsitusikan ke beban pekerjaan. Pembagian tugas harus jelas, sesuai dengan keahlian, Manajer atau kepala devisi harus mampu mengaktifkan lagi, sel-sel yang meredup atau yang sudah mati. Perbaiki atau ganti yang baru.

Kedua, Ketekunan. Semua orang yang terlibat dalam sebuah misi harus tekun dan ulet. Ketekunan merupakan perilaku pantang menyerah. Tidak akan meninggalkan tempat bila belum selesai. Ulet berarti liat, kuat, tidak mudah putus asa. Andai ada kesulitan, maka akan bertanya kepada yang lebih tahu.

Ketiga, Intensitas. Orang yang memiliki motivasi yang tinggi memiliki ciri konsentrasi penuh dan semangat mengejar prestasi. Dalam bekerja memusatkan perhatian secara penuh pada bidang garapnya. Ia tidak akan mengerjakan lain, yang tidak ada hubungannya. Ia juga mencanangkan masa depan untuk meraih prestasi.