Jum’at Berkah

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS Hud: 6)

Tidak ada seorang manusiapun yang memiliki cita-cita dalam hidupnya serba kekurangan. Kurang harta, kurang pengalaman, kurang pintar. Setiap manusia pasti ingin, agar kehidupannya berkecukupan. Sandang, pakan, papan, pengetahuan dan lain-lain.

Banyak orang yang salah menafsirkan makna berkecukupan. Umumnya mereka melihat dari segi materi. Semua diukur dengan nilai bendawi. Padahal berkecukupan memiliki arti tidak berlebihan, sekaligus juga tidak kekurangan. Berkecukupan, dapat pula dipandang dari sisi batiniah. Standarnya adalah tercapainya keinginan. Andai harapan telah tercapai, maka cukuplah baginya. Tidak perlu mengejar yang bukan harapannya.

Kejahatan yang timbul di kalangan masyarakat, berawal dari salah memberi arti “cukup”, yang dilapisi dengan hedonisme. Kata cukup menjadi lenyap, yang ada hanyalah kurang dan selalu kurang, sehingga tidak ada batasnya. Mereka ini memanfaatkan kesempatan, yang seharusnya menjadi titik jeda. Kesempatan diibaratkan seperti batu loncatan.

Mencari sesuatu lebih dari yang telah dimiliki bukanlah masalah. Problemnya, adalah ketika perasaan kurang itu mendorong seseorang untuk terus-menerus mengeruk tiada henti. Padahal, kita telah diberi rambu-rambu untuk istirahat barang sejenak. Lima kali istirahat sehari-semalam adalah aktivitas untuk berserah diri, pasrah, atas usaha yang telah dibangun. Istirahat, juga bermanfaat sebagai sarana untuk melakukan evaluasi, apakah dalam perjalanan telah sesuai dengan rencana.

Orang yang pandai menyeimbangkan antara jalan, lari dan istirahat, ibarat menemukan rasa syukur. Tidak banyak orang yang menangkap isyarat syukur. Karena telah dibanjiri dengan pandangan hidup serba bendawi. Kemuliaan hidup hanya dibungkus dengan uang.

Rasa syukur mestinya menjadi hiasan dan nafas dalam setiap aktivitas. Apa yang telah digenggam, apa yang sedang diusahakan, dan apa yang akan diraih. Bertambahnya syukur akan sejalan dengan bertambahnya rizki. Memperoleh rizki, kadang datangnya bukan dari melakukan sebuah usaha pencarian, namun dari kegiatan memberi.

Sibuk mencari hingga lupa memberi justru akan makin membuat seseorang tak hanya lelah secara fisik, tetapi juga mental atau kejiwaan. Ujung-ujungnya, timbul depresi bila apa yang dicari tidak didapatkan. Oleh karenannya berkecukupan menjadi alternatif yang terbaik.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *