Bersahabat dengan Kesalahan

Sekarang ini banyak orang yang menghargai proses dari pada hasil. Karena dalam proses ada usaha, ada strategi, ada perhitungan efisiensi, dan tentu ada visi yang hendak diraih. Untuk mendapatkan apa yang diimpikan memang dilakukan uji coba sistem sampai ditemukan formula yang ideal. Tentu tidak seketika sitem itu didapatkan.

Untuk meraih yang diidamkan, kesalahan-kesalahan dalam melakukan uji coba hampir selalu ditemui. Tak sedikit, yang menjumpai jalan buntu dan nyaris putus asa. Namun, peluang masih tetap besar, sehingga kata mencoba selalu ada dalam kamusnya. Kata gagal selalu disertai dengan tanda koma, bukan titik.

Para peneliti menemukan bahwa pada saat orang-orang membuat kesalahan, otak lebih aktif, untuk menciptakan penguatan dan selalu ada jalan untuk pertumbuhan, dari pada saat orang-orang menjawab dengan benar. Orang yang menjawab benar, biasanya selesai berfikir, kecuali orang-orang tertentu yang tidak puas hanya pada jawaban benar. Otak mereka ada titik-titik untuk dikembangkan lebih jauh.

Salah satu karakteristik khusus pembelajarn yang sangat efektif adalah adanya kesalahan dan kesulitan. Hampir semua guru sepakat bahwa menilai pada bagian proses lebih baik dibandingkan dengan hasilnya.

Sebagai guru matematika, saya lebih senang bila siswa menemukan cara lain dari yang saya ajarkan. Satu masalah dapat diselesaiakan dengan berbagai macam metoda. Dari ekploitasi yang demikian itu, tentu adan ditemukan kesalahan-kesalahan. Namun justru menjadi peluang yang besar untuk meningkatkan kinerja otak.

Keberhasilan dalam meraih penemuan, sebenarnya tidak terhubung langsung dengan tes atau ujian. Kemenangan diraih dengan melakukan latihan-latihan. Para guru, juga pelatih sependapat bahwa kesalahan adalah kesempatan yang sangat bagus untuk belajar.