Bertetangga

Jum’at Berkah

Rumah tangga yang aman dan damai akan memiliki kekuatan untuk berbuat baik kepada sahabat karib dan sanak saudara. Bila kekuatan ini dimiliki oleh setiap keluarga, maka akan terhimpun suatu kekuatan dalam masyarakat. Bila masyarakat telah tertaut satu dengan yang lain, maka akan mudah terwujud sifat tolong-menolong dan bantu-membantu.

Kewajiban paling utama adalah berbuat baik kepada orang tua. Kemudian disusul pada hak kehidupan. Hak berkeluarga dalam sebuah komunitas adalah bertetangga. Rasul mencontohkan agar berbuat baiklah kepada tetangga. Beliaupun juga memberi tauladan, bahwa hidup bertetangga harus memiliki aturan yang dibuat bersama.

Allah dan Rasulnya memerintahkan agar berbuat baik kepada tetangga yang dekat maupun jauh. Tetangga adalah orang yang berdekatan dengan rumah. Sering bertemu setiap hari. Bila menemui kesusahan, tidak ada orang lain selain tetangga yang akan meringankan beban. Sedih bersama. Senang bersama. Sehingga tidak berlebihan kalau tetangga juga merupakan keluarga sendiri.

Diakui oleh Rasul, bahwa Malaikat Jibril tak henti-hentinya mengingatkan agar melihat tetangga dengan mata yang lebar. Berbuat ma’ruf tidak terbatas hanya kepada orang Islam. Allah sendiri akan memberi bonus kepada setiap muslim, apabila berkerabat dengan tetangga, tanpa memandang agama, suku maupun status sosial.

Sebaliknya, dalam mewujudkan akhlakul karimah, kita dilarang menggangu apalagi menyakiti tetangga. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasul. “Siapakah yang tidak beriman ya… Rasulullah?”. Beliaupun menjawab “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan”.

Menurut beberapa ulama, ada tiga jenis tetangga. Pertama adalah yang memiliki satu hak. Tetangga katagori ini yang termasuk musyrik. Namun demikian, mereka punya hak diperlakukan dengan baik dan tak boleh disakiti. Kedua, adalah dua hak, yaitu tetangga sekaligus Muslim. Abu Dzar memberi pesan “Jika kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikan tetanggamu.

Ketiga, haknya sebagai tetangga, muslim dan kerabat. Al Ghazali menasehati dalam bertetangga, mengawali mengucapkan salam, tidak memperpanjang bicara, tidak banyak bertanya tentang keadaannya, karena akan menyakiti. Hak lainnya, menjenguk dikala sakit dan ta’ziyah.