Binatang

Jum’at Berkah

“Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main (berarti ada tujuan). Kami tika menciptakan keduanya melainkan dengan haq tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

(Ad Dukhan 38 -39).

Allah menciptakan aneka ragam makhluk yang akan hidup di langit dan bumi. Diantaranya adalah binatang. Petunjuk al Qur’an tentang binatang terdapat dalam kata an’am dan dabbah. Kata n’am bentuk jamak dari na’am yang bermakna enak atau keadaan yang baik. Kata n’am semula berarti unta. Karena daging unta terkenal enak. Dalam penggunaannya, kata tersebut dapat berarti sapi, kambing dan lainnya.

Kata dabba berakar dari huruf dal dan ba’ yang mengandung makna dasar “memiliki gerak yang lebih ringan atau halus dari berjalan. Penggunaan kata dabbah, dalam al Qur’an mengandung dua arti, yaitu hewan seperti termaktub dalam surat al An’am: 38 serta hewan dan manusia.

Mengapa al Qur’an menyebutkan eksistensi hewan pada beberapa ayat dan mengagungkan kata hewan sebagai judul surat. Pertama, sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Bukankah diciptakannya alam semesta beserta isinya, termasuk hewan untuk kepentingan manusia? Secara umum, ada enam kelompok utama binatang yang telah dikenal manusia. Antara lain: Mamalia, burung, ikan, serangga, reptile, ampibi. Dari enam kelompok tersebut masih terbagi menjadi sub kelompok. Misalnya mamalia ada sekitar 4.200 jenis, burung 8.600, binatang lunak atau tak bertulang belakang ada 227.000 jenis.

Kedua, Binatang adalah makhluk, seperti manusia juga. Persamaan keduanya sebagai makhluk antara lain, mereka juga hidup berproses. Dari tiada menjadi ada. Dari kecil hingga besar, dapat merasakan, memiliki naluri untuk berkembang biak. Bahkan, mereka juga memiliki komunitas dengan hierarki kepemimpinan. Persamaan lain, keduanya mendapatkan rizki. Hidup berpasang-pasangan. Pesan Allah kepada manusia, agar memperlakukan hewan dengan sikap yang wajar, agar ekologi dan ekosistem hewan tetap terjaga.

Ketiga, bertasbih. Ada yang menafsirkan bahwa ketika binatang sedang berbunyi, sesungguhnya mereka sedang berdzikir. Mereka mengagungkan asma Allah di setiap saat dan setiap tempat. Al Maraghi membagi cara bertasbih makhluk melalui dua cara. Makhluk yang berakal dan mukallaf, cara bertasbihnya kadang dengan perkataan atau dengan cara-cara yang menunjukkan keesaan Allah. Makhluk yang tidak berakal, model tasbihnya dengan caranya sendiri, sesuai dengan kemampuannya. Ada yang mengatakan dengan supra rasional.

Sumber bacaan : Pelestarian Lingkungan Hidup, Kementerian Agama RI tahun 2012