Budaya Membaca Buku

Harus diakui bahwa teknologi informasi melaju kencang, pada saat masuk abad ke-21. Dampak dari

sejak akhir abad ke-20 dan masuk abad ke-21, dunia ditandai dengan semakin kencangnya arus informasi dan digital yang berdampak pada semua aspek kehidupan. Ada tuntutan perubahan secara drastis ke arah teknologi digital. Era digital membawa dampak luar biasa arus informasi yang berdampak serius pada cara berkomunikasi. Berbagai arus informasi yang semula efektif disampaikan lewat kertas (tulis-baca) kini mau tidak mau kita harus menerima perubahan itu. Kita masuk dalam era disrupsi era 4.0. Era “penghancuran” terhadap berbagai hal yang telah mapan. Pesatnya tekonologi informasi dan digital, membawa perubahan dalam paradigma literasi. Sarana untuk berkomunikasi, sekaligus untuk memperoleh pengetahuan, kini tidak terbatas pada wacana teks cetakan (tradisional). Berbagai produk era digital seperti internet, ebook, ejournal, Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, dan lain-lain sampai berbagai  bentuk tampilan visual amat memengaruhi sikap, cara berpikir, dan berperilaku manusia.

Abad ke-21 dapat dipandang sebagai abad literasi. Di berbagai belahan dunia orang berbicara literasi. Pada 2015 PBB menetapkan UN Literacy Decade yang mengindikasikan  bahwa pada tahun itu semua warga dunia haruslah memiliki kompetensi berliterasi (Janjic-Watrich, Wallen, & Brenna, 2009). Hal itu tertuang dalam program Education for All (EFA) di bawah koordinasi PBB untuk seluruh negara di dunia yang ikut serta dalam keanggotaan program. Australia, misalnya, memiliki Australian Literacy Federation (ALF) yang merupakan forum bersama untuk The Primary English Teacher Association dan The Australian Literacy Educators Association. Ada survei untuk mengukur kompetensi siswa SD yang bernama PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) (Mullis & Martin, 2016), dan PISA untuk SMP (Programme for International Students Assessment) (OECD, 2013) yang Indonesia ikut di dalamnya. Indonesia telah menetapkan kebijakan tentang GLN (Gerakan Literasi Nasioanl) dan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) (Kemendikbud, 2017).

Bagaimana halnya dengan dunia kesastraan, dunia pembelajaran literasi bersastra? Di konteks kesastraan pun dampak arus informasi digital itu terasa berpengaruh. Di era sebelumnya, arus informasi kesastraan itu hanya “mengalir perlahan” lewat kertas (buku dan berbagai bentuk cetakan yang lain). Dewasa ini arus informasi tersebut juga membanjir lewat wacana digital secara masif. Hebohnya lagi, amat banyak unggahan yang hampir tanpa seleksi tanpa proses “reviu” dari pihak lain yang berkompeten pada bidang itu. Bahkan, yang semula telah dicetak pun, kini juga diunggah ke ranah digital secara online. Inilah yang oleh Mills (2010) disebut telah terjadi pergeseran sejarah budaya teks cetak ke media online. Semuanya menjanjikan kemudahan dan kecepatan akses bagi seseorang yang memiliki kompetensi multiliterasi. Konsekuensinya, mau tidak mau mesti ada perubahan penyikapan. Namun, pada intinya literasi media yang berbagai-bagai itu—yang kemudian dikenal dengan istilah multiliterasi—menekankan kemampuan kritis dan reflektif.

Dunia pendidikan mestinya bisa mengambil manfaat dari era itu untuk meningkatkan kualitas output yang sesuai dengan tuntutan zaman sehingga keluaran lembaga pendidikan nyambung dengan kebutuhan di dunia kerja. Untuk itu, pembelajaran mesti harus kontekstual dan sesuai dengan pengalaman siswa (Howick & Schmaus, 2018). Pernyataan tentang pentingnya sikap dan kemampuan kritis dan reflektif menunjukkan bahwa dampak luar biasa teknologi digital sekaligus juga memiliki sisi-sisi negatif. Dengan adanya kecanggihan teknologi digital, harus diakui memudahkan kita bisa mengakses berbagai teks kesastraan. Untuk membaca berbagai karya sastra, nasional dan internasional, termasuk yang “langka”, kritik dan esai, dan lain-lain kita tinggal mencari di internet. Namun harus diingat, teks apa saja dapat diperoleh di sana, tidak hanya yang menyangkut berbagai teks yang baik sebagaimana disarankan untuk dibaca atau dibelajarkan, tetapi juga berbagai teks yang tidak baik, kurang mendidik, atau bahkan memunyai dampak merusak.

Kesemuanya itu membutuhkan penyikapan dan penerimaan secara berbeda, perlu penyikapan dan cara meliterasi semua itu untuk mengurangi dampak negatif. Intinya, untuk menyikapi kondisi tersebut dibutuhkan kompetensi literasi yang berbeda dengan sebelumnya, yang menuntut kompetensi yang lebih banyak untuk menanggapi berbagai macam teknologi seperti kompetensi teknologi informasi, digital, multimedia, dan lain-lain. Hal inilah yang antara lain memicu munculnya istilah multiliterasi. Maka, muncul paradigma baru dalam hal literasi (literasi media) untuk menanggapi “teks” di dunia maya yang menuntut kompetensi multiliterasi juga.