Bulan Rajab

Jum’at Berkah

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”

Meskipun hadits di atas lemah, namun karena do’a, tentu saja baik. Apalagi akan bertemu dengan bulan yang sangat mulia yaitu Ramadhan. Tamu agung yang selalu kita nantikan dan kita dambakan.

Delapan hari kita dilepas pada bulan Rajab. Hari berlalu tanpa kesan, karena memang tidak tahu ada apa di bulan Rajab. Andai saja saya harus mengenang masa kecil, maka bulan Rajab adalah bulan kemewahan. Satu hari di bulan itu, anak-anak berkumpul di masjid mendengarkan pengajian umum yang dihadiri ratusan orang. Isi tausiah, bagi anak-anak tentu bukan tujuan utama. Yang paling ditunggu adalah ingkung. Makanan mewah yang belum tentu tiga sampai empat bulan berikutnya akan bertemu lagi.

Sebelum Islam datang, bulan Rajab telah dimuliakan dan ditradisikan sebagai bulan yang baik. Salah satu cirinya adalah haramnya darah ditumpahkan. Berarti masyarakat saat itu ingin ketenangan. Kedamaian diciptakan. Semua suku yang ada meletakkan senjata. Mereka bersuka cita, karena tidak ada sanak saudara yang meregang nyawa.

Bulan Rajab merupakan bulan ke tujuh dari urutan menurut kalender hijriyah. Tujuh, dalam bahasa jawa artinya pitu. Sesepuh memaknai pitu menjadi pitulungan (pertolongan). Meraka beranggapan bahwa karena telah memperoleh banyak pertolongan dari yang maha kuasa, maka harus bersyukur. Banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur, antara lain mendengarkan petuah agama dari pemuka agama. Di beberapa daerah memperingati Rajaban.

Ajaran Nabi Muhammad SAW dikaji lewat pengajian, sejarah para Nabi ditutur kembali, agar umat mengingat seberapa jarak antara anjuran Nabi dengan perilaku sehari-hari. Kehidupan para pahlawan diceriterakan ulang. Tak lupa, memprediksi masa depan lewat pengajian-pengajian khusus.

Dari, sekian banyak aktivitas, yang paling utama tetap memperbanyak membaca shalawat. Karena bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang haram, maka diutamakan memperbanyak ibadah. Saat itulah kita harus mendulang kebaikan. Membaca shalawat, dapat dilakukan kapan saja.

Memperbanyak dzikir termasuk istighfar. Beristighfar kepada Allah SWT akan memudahkan semua urusan dan mengangkat kesulitan, dan yang terpenting Allah mengampuni dosa-dosa. Dzikrullah adalah amalan yang tidak diatur waktunya. Dzikir kepada Allah baik secara lisan maupun perbuatan, maka hati kita akan selalu mengingat-Nya.