Dar al Islam (1)

Jum’at Berkah

Setiap kali mendengar kata Darul al Islam, seketika ingatan akan melayang beberapa tahun silam. Saat Indonesia dalam suasana tertatih-tatih menegakkan kemerdekaan. Masih ada kelompok tertentu tidak puas dengan kemerdekaan, dengan berbagai alasannya.

Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo (S.M. Kartosuwiryo) dan teman-teman memang termasuk tidak setuju dengan bentuk dan dasar negara. Mereka mengidolakan bentuk negara berbasis Islam. Oleh karenanya, beliau memberontak atas nama Darul Islam, dengan pasukannya Tentara Islam Indonesia, sering disingkat DI/TII.

Keinginan itu bukan tanpa dasar. Mereka mungkin merujuk pendapat ulama-ulama terdahulu. Para ulama Syafi’iyah, mengatakan bahwa Dar al Islam adalah negeri yang dibangun oleh kaum Muslimin. Mazhab Hanafi, berprinsip bahwa dar al Islam adalah nama sebuah tempat yang berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin. Sedangkan pengikut Imam Ahmad, memiliki definisi bahwa Dar al Islam adalah negara yang ditaklukkan atau dibangun kaum Muslimin.

Pandangan seperti ini juga dianut oleh Sayyid Qutub, tokoh Al- Ikhwan Al-Muslimun ini, memandang negara yang menerapkan hukum Islam sebagai Dar Al-Islam, tanpa mensyaratkan penduduknya harus muslim.

Bila umat Islam merasa aman dan dalam menjalankan aktivitas keagamaan mereka, maka negara tersebut termasuk Dar Al-Islam. Sebaliknya, bila tidak ada rasa aman untuk umat Islam, maka negara itu termasuk Dar Al-Harb (negeri perang).

Tulisan berikut bukan hendak membahas Dar al Islam dalam sudut pandang kekuasaan atau politik, namun dikembalikan pada makna aslinya. Dar al Islam terdiri dari dua suku kata, yaitu Dar dan Islam. Kata Dar berasal dari kata dasar dara, yaduru, daaran yang bermakna berputar, berkeliling, menyesuaikan. Atau jika diubah dengan bentuk tadawwara, bermakna menjadikan bulat. Kemudian jika berubah menjadi daaran, dalam bentuk plural berarti negara, wilayah.

Adapun makna asalnya, kata yang tersusun dari huruf dal, waw, ra’ menurut Ibnu Faris memiliki makna dasar ihdaqu as-Syai’ bi as-Syayyii min haulihi, berkelilingnya sesuatu dengan sesuatu dari keadaannya semula. Oleh sebab itu, ad-Dahru juga disebut dengan ad-Dawariyyu karena mengitari keadaan manusia.

Kedua, kata al Islam ataupun as Salam, masing-masing berasal dari kata salima, yaslamu, salman. Bentuk masdarnya salamun atau as salam yang berarti damai, sejahtera, hormat, tunduk, berserah. (bersambung)