Dari SKALU sampai SBMPTN

Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diidamkan bukanlah persoalan yang gampang. Harus bersaing dengan teman sebaya yang jumlahnya tidak sedikit. Satu kursi diperebutkan hingga puluhan peminat. Kalau tidak mempersiapkan diri dengan baik dan kompetitif jangan diharapkan pintu PTN terbuka.

Penulis telah merasakan beratnya masuk PTN, yaitu pada saat Bernama SIPENMARU. Lulusan SMA tahun 1980an yang mencoba masuk benar-benar luar biasa. Untuk mendapatkan formulir, mereka rela antri sejak dini hari. Bahkan ada yang rela menginap didepan loket. Untuk pengembalian formulir sudah lumayan tertib, karena dari pihak panitia telah mengatagorikan berdasar nomor formulir, dan jurusan yang hendak ditempuh.

Secara kelembagaan, perjalanan calon mahasiswa baru dimulai dari tahun 1976. Calon mendaftaran diri di Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas (SKALU). SKALU ini diikuti oleh lima Perguruan Tinggi. Kelima universitas tersebut adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Airlangga (Unair).

Inisiatif kelima universitas tersebut, pada tahun-tahun berikutnya diikuti oleh perguruan lain menjadi sepuluh. Tambahan lima perguruan tinggi antara lain : Universitas Padjajaran (UNPAD), Universitas Diponegoro (UNDIP), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Sumatra Utara (USU). Mereka tergabung dalam Sekretariat Antar Sepuluh Universitas (SKASU).

Sistim seleksi berikutnya adalah Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Seleksi ini berdiri sekitar tahun 1983. Berkembang lagi menjadi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) antara tahun 1989 hingga 2001. Sipenmaru menjelma menjadi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Tahun 2008 menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Masa itu, telah tersentuh oleh komputer. Segalanya memakai komputer atau sering disebut dengan komputerisasi. Namun karena masih terbilang baru, tak sedikit calon mahasiswa mengalami kegamangan. Kekhawatiran yang berlebihan.

Pada tahun 2011 SNMPTN dikembangkan menjadi dua pola yaitu penerimaan melalui penelusuran kemampuan dan prestasi akademik. Model ini, calon siswa dipotret prestasinya sewaktu masih duduk di SMA atau SMK. Lebih tepatnya masuk perguruan tinggi tanpa test. Kemudian pola yang kedua dengan sistim ujian tulis, yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Dari dua jalur, tahun 2013 dikembangkan lagi menjadi tiga jalur, yaitu SNMPTN, SBMPTN dan Jalur Mandiri. Sistim ini dikembangkan atas inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan untuk mengelola secara mandiri penerimaan mahasiswa baru. Tahun 2019, Seleksi Bersama Masuk perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) menggunakan hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Penggunaan basis komputer merupakan tes masuk yang diselenggarakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT).

LTMPT adalah satu-satunya Lembaga penyelenggara tes perguruan tinggi di Indonesia. Pelaksanaan UTBK memiliki keunggulan karena hasilnya valid, kredibel, terstandar dan nilai diberikan secara individu kepada peserta. UTBK 2021 sekarang ini, boleh diikuti oleh lulusan tahun sebelumnya, yaitu 2019, 2020 dan 2021 dari berbagai sekolah (SMA/MA/SMK dan sederajat), serta lulusan paket C dengan umur maksimal 25 tahun.

Sudah lebih dari 15 bulan badai corona belum tampak mau surut. Bahkan varian baru muncul ditengah keterpurukan berbagai sektor kehidupan. Namun belajar tetap harus survive. Peminat masuk ke perguruan tinggi tetap besar. Belajar secara daring tetap berjalan. Semangat mengais ilmu tetaplah tinggi. Perguruan tinggipun masih membuka lebar-lebar bagi calon mahasiswa, dengan syarat seperti tertera di atas.

Pelaksanaan SNMPTN tahun ini relative berjalan mulus tanpa hambatan. Prestasi siswa sewaktu SMA/MA/SMK dapat direkam oleh perguruan tinggi tanpa menghadirkan calon mahasiswa. SBMPTN, semula agak khawatir karena harus mendatangkan calon mahasiswa. Panitiapun tidak ingin kecolongan dengan munculnya cluster baru corona. Sisi baiknya, calon mahasiswa tak perlu ke perguruan tinggi tujuan untuk mengikuti test. Cukup di perguruan tinggi terdekat.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *