Dokter Darman

Kegiatan rutin yang tidak boleh dilewatkan keluarga kami adalah mendengarkan sandiwara radio “Dokter Darman”. Selepas maghrib. Diterangi oleh lampu petromax, satu-satunya alat penerang yang masih moncer saat itu.

Radio sebagai media hiburan yang juga satu-satunya dimiliki oleh keluarga kami, benar-benar senantiasa menjadi teman dan sekaligus sebagai media pembelajaran. Semua informasi yang datang dari luar  disadap lewat radio. Tape Recorder sebagai alat hiburan yang lebih mewah, dimiliki oleh tak lebih dari 3 orang di rumpun desa kami.

Akhir tahun 70-an. Demikian perkiraan yang dapat saya tebak, atau awal 80-an. Di tahun-tahun tersebut, desa saya masih terbilang terbelakang untuk ukuran teknologi. Meskipun termasuk ibu kota kecamatan, namun desaku cukup terisolir, karena sangat jarang desa ditemukan barang-barang yang berbau elektronik. Radio mungkin masih termasuk barang mewah.

Desa kami termasuk kurang beruntung dalam masalah transportasi. Jalan maupun kendaraan masih langka. Mungkin, desa saya termasuk buntu. Karena untuk mencapai desa berikutnya termasuk yang sulit tekstur jalannya. Sehingga Pemerintah Kabupaten belum perlu mengerjakan ruas jalan. bila melanjutkan perjalanan dari arah kabupaten. Sehingga dalam masalah budaya juga cukup tertinggal.

Kehidupan seorang dokter bagi orang desa hampir selalu menjadi panutan, disamping Tentara. Dokter sebagaimana profesinya adalah orang yang dapat menyembuhkan orang sakit. Bagi orang desa yang saat itu masih buta terhadap lika-liku kesehatan, dokter ibarat dewa penolong. Sekalipun sudah ada mantri kesehatan.

Sandiwara yang dimainkan oleh sanggar prativi dapat menghipnotis, karena lihai menggerakkan emosi. Tak berlebihan bila karakter yang dibangun oleh pemain menjadi hidup dan seolah-olah memang menjadi kejadian yang nyata.

Sandiwara radio berbeda dengan film atau sinetron. Pendengar bebas untuk mengekspresikan apa yang didengar. Saat saya mendengarkan alur cerita dokter Darman, yang saya bayangkan saat itu adalah kehidupan di rumah sakit. Lorong yang panjang dan menakutkan. Tempat tidur berjajar dengan kasur yang kumal. Wajah dokter yang demikian wibawa, apalagi bila sudah memegang alat suntik. Suara dokter bak malaikat, yang setiap pasien atau keluarganya tak akan berani membantah.

Sisi lain dari sandiwara itu adalah pengungkapan pribadi dokter diluar profesi. Sebagai salah satu anggota masyarakat yang hidup ditengah masyarakat, dokterpun bisa menempatkan diri. Itulah mengapa sandiwara ini selalu dinanti jam tayangnya terutama keluarga saya.

Persaingan antar dokter, pertikaian dengan pimpinan, kecemburuan, hubungan yang cukup dekat dengan pasien lawan jenis, menambah renyah alur cerita.

Sutradara paham benar watak pendengar. Saya perkirakan penulis cerita dan sutradara orang yang sudah paham bagaimana menyuguhkan sebuah sajian berupa sandiwara radio yang dapat menghibur sekaligus pembelajaran tentang pentingnya kesehatan.

Sandiwara radio sekarang jarang diminati. Orang lebih suka mendengarkan musik yang lebih ringan mencernanya. Informasi peristiwa juga menyita waktu siaran. Warta berita yang dikemas dalam sajian budaya pop  semakin banyak diminati. Tidak membutuhkan alat pikir yang mendalam, untuk mengunyah sebuah berita.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *