Etika Berkeluarga

Ramadhan 1443 H – Hari Pertama

“Rumahku Surgaku”

Berkeluarga adalah idaman setiap manusia. Tujuan berkeluarga agar setiap pasangan (suami-istri) dapat meraih kebahagiaan yang mawaddah dan rahmah, sehingga dapat melaksanakan tugas kekhalifahan dalam pengabdian kepada Allah swt. Undang-undang Perkawinan (UUP) No. 1 Tahun 1974 juga menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.

Kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, dan kasih sayang, merupakan idaman setiap rumah tangga. Namun pasang surut dari kehidupan berumah tangga bukanlah menapaki jalan yang lurus dan halus. Terkadang ditemui lubang yang akan menggoyahkan bahtera. Tak jarang tikungan tajam tiba-tiba berada dihadapannya. Atau bahkan kanan kiri jalan tersaji jurang yang dalam. Apapun bentuk dari riak perjalanan, usaha-usaha untuk merusak perkawinan dibenci oleh Islam.

Agar terbentuk keluarga sakinah yang diridlai Allah swt, maka suami istri tetap berpegang teguh pada etika yang telah ditetapkan dalam al Qur’an. Menjunjung tinggi kewajiban dan haknya masing-masing. Suami memiliki beban tersendiri, istri dan anak juga mempunyai tanggung jawab. Suami adalah kepala keluarga, itu karena perintah agama. Supaya terjalin rumah tangga yang baik, maka dibutuhkan kerja sama dan pembagian tugas antara suami dan istri. Hal ini sejalan dengan al-rijal qawwmuna ‘ala al-nisa’, merupakan kalimat yang dimaknai pembagian tugas antara suami istri.

Keharmonisan rumah tangga dapat digapai bila asupan saling pengertian, saling menjaga, saling menghargai, mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Kesenjangan, perselisihan, kesalahpahaman anggap saja seperti buih yang akan lebur bersama dengan ombaknya sungai.

Dalam Islam tidak ditemukan sedikitpun tentang dikotomi kekuasaan atara suami dan istri, karena pasangan suami istri tersebut merupakan bagian dari dirinya sendiri. Artinya, tidak akan ada pemaksaan dan penindasan pada pasangannya. Prinsip al Musyawah (kesamaan derajat) dapat menciptakan tujuan berkeluarga yang damai.

Yusuf al Qaradawi mengatakan “Keluarga islami terbentuk dalam keterpaduan antara ketenteraman dan kasih sayang. Ia terdiri dari istri yang patuh dan setia, suami yang jujur dan tulus, ayah yang penuh kasih dan ramah, ibu yang lemah lembut dan berperasaan halus, putra putri yang berbakti dan taat, kerabat yang saling membina silaturahmi dan tolong-menolong”.