Etika Bermasyarakat

Ramadhan 1443 H – Hari Kedua

“Keadaan seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran”. Ibnu Maskawaih

Masyarakat di lingkungan kita masing-masing, cukup mafhum dengan keadaan sekarang. Mereka merasa cukup prihatin dengan perilaku sebagian masyarakat yang sudah mulai pudar dari nilai-nilai luhur, yaitu yang mengedepankan sisi manusia. Ajaran yang telah ditorehkan oleh pendahulu kita, selalu menghindari konflik dengan orang lain. Inilah yang disebut dengan keselarasan. Hidup berdampingan secara damai dengan tetangga serta menghargai keberadaan lingkungan.

Terciptanya pola kehidupan masyarakat yang tenteram tentu berakar dari keluarga yang damai. Keluarga yang mengerti tentang hak dan kewajiban dari masing-masing anggotanya. Yang muda menghormati yang lebih tua. Sebaliknya yang tua membimbing dan mengayomi yang muda. Itulah perilaku yang menunjukkan etika didalam masyarakat kecil.

Etika atau akhlak, sebenarnya merupakan kebiasaan. Oleh karenanya, akhlak itu syaratnya ada dua macam, yaitu perbuatan itu dilakukan secara berulang dan perbuatan tersebut didorong oleh emosi jiwa, bukan atas tekanan dari pihak luar. Etika merupakan hasil akhir dari penilaian baik dan buruk. Sikap seseorang yang diujudkan perilaku, akan mengacu pada aturan atau tata nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Ada banyak jenis etika yang dapat ditemukan di sekitar kita, antara lain : etika berumah tangga, etika dalam bekerja, etika berbisnis dan lainnya. Masing-masing etika memiliki ukuran yang berbeda-beda. Etika tersebut sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, karena etika menjadi pintu yang tepat demi terciptanya kondisi lingkungan masyarakat yang baik.

Etika atau akhlak akan membentuk moral seseorang. Moral dalam keseharian sering dinamakan kebiasaan, atau yang lebih elegan lagi dengan susila. Ada perbedaan sedikit antara etika atau akhlak dengan moral. Akhlak memandang perbuatan manusia secara universal, sedangkan moral secara lokal. Keduanya mempunyai kesamaan output yaitu, meningkatkan citra manusia menjadi manusia yang utuh. Manusia yang layak untuk menjadi khlifah di bumi ini.

Sungguh tugas yang amat berat bagi manusia, malaikatpun semula sangsi terhadap keputusan Allah mengangkat manusia sebagai pemimpin di bumi ini. Namun itulah titah yang harus dilaksanakan. Memakmurkan bumi. Tidak diperkenankan sewenang-wenang terhadap orang lain maupun lingkungan. Menjaga bumi agar tetap lestari, memberi warisan kepada anak-cucu supaya kelak tetap dapat menikmati keindahan jagat raya ini.

Tidak hanya menjaga dan merawat alam di sekitar kita, baik itu berupa tumbuhan, binatang dan sebagainya. Tetapi juga menjaga dan merawat hubungan antar sesama umat manusia sehingga bisa hidup dengan aman dan damai. Tanpa adanya, perbudakan, penindasan dan tentunya jauh dari kekerasan dan peperangan.