Etika Bernegara (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Ketiga

Sungguh di tangan kalian, hai pemuda, urusan umat ini diserahkan. Dan di kakimulah hidup dan mati mereka dipertaruhkan. Mustafa al Galayaini

Fredericus Julius Stahl membuat teori bahwa asal mula negara dari keluarga, masyarakat dan akhirnya menjadi negara. Teori ini meyakini bila suatu negara dapat terbentuk karena kehendak Tuhan. Manusia yang menghuni suatu negara dianggap tidak pernah terlibat. Negara monarki umunya percaya bahwa negara tiba-tiba terbentuk karena keikutsertaan Tuhan.

Jean Jacques Rousseau, berpendapat bahwa Negara terbentuk karena perjanjian antar masyarakat. Teori ini sering disebut kontrak sosial. Sebelum negara terbentuk, masyarakat hidup secara individu, bebas, dan sederajad. Akan tetapi masyarakat tidak dapat berkutik bila hidup sendirian. Mereka perlu bantuan orang lain, berinteraksi dengan orang lain untuk saling membantu. Hingga akhirnya sepakat melakukan kontrak sosial untuk mendirikan sebuah negara. Tata kenegaraanpun masih sederhana yaitu, kekuasaan berada di tangan rakyat. Negara tidak boleh bertindak semena-mena, karena harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan masyarakat.

Ketiga adalah teori kekuasaan yaitu, sebuah negara terbentuk karena ada kekuasaan. Ada tangan perkasa yang mampu mengatur kehidupan masyarakat. Ada yang menafsirkan, negara ini muncul karena ada seorang atau sekelompok orang kuat yang menguasai kelompok yang lemah, setelah adanya pertarungan atau perang. Kelompok kuat mengatur tindak tanduk atau bahkan dapat memaksa kepada masyarakat agar patuh. Kekuatan disini dapat pula berarti fisik, ekonomi, agama, ataupun kecerdasan.

Teori yang terakhir adalah hukum alam. Terjadinya sebuah negara karena sesuatu yang alamiah. Formula ini mengatakan bahwa hukum alam tidak dibuat oleh negara, namun negara ada karena kehendak alam. Thomas Aquinas menulis jika pembentukan serta keberadaan negara tidak dapat diabaikan dari hukum alam. Kehidupan masyarakat alamiah. Karena hukum alam, kehidupan manusia saling berdampingan dan bekerja sama untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Secara tidak langsung, maka kehidupan mereka menjadi makhluk sosial.

Apapun bentuk teorinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang semula bersuku-suku, kedaerah, teritorial yang membentuk aturan tersendiri, pada akhirnya menjadi satu. Salah satunya adalah kesepakatan untuk membentuk sebuah negara yaitu Indonesia. Apakah karena kesatuan nasib? Atau keinginan untuk maju bersama?  Bukanlah sebuah pertanyaan yang essensi. Kesepakatan yang pasti adalah kehendak untuk bersatu.

Persatuan yang kuat dibangun atas dasar keterikatan secara geografis, persamaan nasib, dan kehendak untuk tujuan yang sama. Kesadaran berbangsa ini tumbuh karena masyarakat sadar bahwa kehidupan sosial harus direkatkan. Masyarakat menghendaki, bahwa untuk berbangsa mereka harus lebur dan terikat dengan tata aturan. Hukum yang diciptakan untuk ditaati bersama.

Sebagai bangsa Indonesia, kita sebenarnya terikat dengan bangunan sistem kenegaraan yang digali dari akar budaya yang telah hidup selama berabad-abad. Dari para pendiri negara ini, mereka mengambil inti sari budaya agar dapat diterapkan pada sebuah komunitas yang besar yaitu negara Indonesia. (bersambung)

Bahan bacaan : https://www.kompas.com/skola/read/2021/01/18/140749569/4-teori-terbentuknya-negara?page=all