Etika Bernegara (2)

Ramadhan 1443 H – Hari Keempat

Rasa senasib dan seperjuangan akibat dari penjajah selama ratusan tahun, adalah salah satu musabab mengapa Indonesia harus mendirikan negara. Tekad inilah yang kemudian dinyatakan secara politis, memproklamirkan diri sebagai Negara Indonesia. Momentum 17 Agustus 1945 sebagai negara yang berdaulat. Negara yang akan menata dirinya sendiri, tanpa campur tangan orang lain, namun juga tidak ingin mencampuri negara lain.

Berangkat dari realitas di lapangan, bangsa Indonesia yang majemuk dan beraneka ragam suku, budaya, tradisi, maka harus disatukan tanpa meniadakan identitas kedaerahan. Budaya lokal harus selalu hidup, kebiasaan masyarakat setempat harus selalu dijaga, namun harus diikat dalam sebuah bingkai, Bhineka Tunggal Ika. Kalimat yang sakral, ampuh untuk mempersatukan. Karena Indonesia bukanlah Jawa, Bugis, Aceh, Bali dan lain-lain. Indonesia bukan pula Islam, Kristen, Hindhu, Aliran kepercayaan lainnya.

Secara perilaku, kita harus berterima kasih kepada nenek moyang. Mereka ini yang menanam sikap toleransi, menghargai sesama manusia, bahkan juga menjaga kelestarian alam, tolong menolong, dan ramah dengan siapapun. Nilai-nilai dasar ini yang sering kita sebut sebagai moral. Seseorang yang memiliki moral yang tinggi maka ia memiliki etika yang tinggi pula. Sekelompok masyarakat hendaknya dibangun dari dari pribadi-pribadi yang demikian.

Beberapa negara tumbang sebagai akibat mengabaikan moral. Mereka tidak mengindahkan etika dalam kehidupan bernegara. Hanya berdalih pada kebebasan tanpa batas. Memproklamirkan diri sebagai orang yang memiliki hak asasi. Menjunjung tinggi hak namun mengabaikan kewajiban. Aliran seperti ini sangat tidak cocok diterapkan di lingkungan kita. Menafikan etika.

Tanpa etika, kehidupan bernegara akan berantakan. Etika harus senantiasa dijaga dengan sarana yang dimiliki oleh negara. Bangsa ini membutuhkan alat-alat untuk mengawasi kehidupan bermasyarakat, agar tercipta keharmonisan. Ada tiga kondisi yang mesti dijaga dalam kehidupan berbangsa.

Pertama, perlindungan. Yang namanya perlindungan, berarti dari atas ke bawah. Artinya, yang berkewajiban melindungi, dalam konteks berbangsa adalah Negara sebagai institusi terbesar. Apa yang perlu dilindungi? Yaitu hak-hak yang paling mendasar antara lain : hak hidup, hak beragama, hak untuk berfikir dan berilmu, hak milik dan perlindungan terhadap keturunan.

Kedua, persatuan. Isyarat al Qur’an, hidup manusia jangan bercerai berai. Sebab julukan demikian sangat mengenaskan yaitu orang yang akan diberi azab yang berat. M. Quraisy Shihab memaknai bukan pengelompokannya. Tetapi pengelompokan yang mengakibatkan perselisihan. Kata persaudaraan menjadi unsur penting dalam rangka membangun persatuan.

Ketiga, cinta. Mahabbah artinya saling mencintai, mengasihi. Hubungan persaudaraan harus dilandasi rasa mahabbah. Mencitai secara total, bukan parsial. Sebab mencintai dapat dibedakan menjadi tiga. Cinta karena fisik atau material. Cinta karena spirit, dan cinta karena keagungan terhadap yang dimiliki. Mencintai bangsa mestilah integral, menyeluruh. Sebab cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.