Geometri

Pada awalnya adalah keinginan para Kaisar atau Raja yang menginginkan sebuah bangunan untuk tempat tinggal, dana beberapa bengunan untuk kepentingan kerajaan. Hal ini dimaksudkan untuk memperluas daerah kekuasaannya, agar pajak dapat tercapai secara optimum.

Hasrat tersebut disampaikan kepada beberapa ahli bangunan di lingkungan istana. Saat itu, Teknik mendirikan rumah masih sangat kasar. Secara konstruktif juga belum ada keseimbangan antar sudut. Teknik geometrinya masih mengandalkan intuitif.

Dalam catatan Ahmes Papirus (penulis terkenal pada masa Mesir Kuno, hidup sekitar 1650 SM), terdapat perhitungan tentang luas bangunan, segitiga siku-siku, trapesium dan pendekatan perhitungan lingkungan. Orang Mesir, saat itu, telah berhasil mengembangkan perhitungan matematis untuk kehidupan sehari-hari.

Orang yang paling tidak suka menghitung sesuatu hanya berdasarkan perasaan adalah Thales (640 – 546 SM). Thales adalah orang yang selalu berkata “buktikan”, dan Ia selalu melakukan itu. Dari teori yang yang telah dibuktikan olehnya, maka bermunculan rumus-rumus matematika, terutama geometri, seperti Pythagoras.

Disusul kemudian Euclid (300 SM) yang berhasil menemukan elemen, yaitu penggabungan antara ilmu yang didapat dari sekolah dengan pengetahuan matematika yang dipakai oleh masyarakat saat itu.

Versi Plato, bahwa elemen berasal dari alam semesta yang terdiri dari empat elemen: tanah, air, udara dan api. Dikemudian hari, keempat elemen tersebut dibuat simbol geometris, seperti tetrahedron, hexahedron (kubus), octahedron dan icosahedron. Aristoteles menambah elemen yang kelima, yaitu ether.