Gesekan dengan Orang Lain

Jum’at Berkah

“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. At Tirmidzi)

Salah satu fitrah manusia adalah tidak berdaya. Tanpa bantuan orang lain, mungkin manusia tidak dapat hidup. Manusia membutuhkan orang lain untuk saling tolong-menolong. Sehingga manusia membutuhkan hidup bersosial. Hidup Bersama, bahkan telah menjadi garis Allah. Karenanya, Allah menciptakan Adam dan Hawa, agar saling melengkapi.

Namun demikian, saat kebutuhan manusia telah tercukupi, ada kalanya manusia menjadi lupa diri. Ia beranggapan bahwa semua usaha yang diperoleh, adalah hasil keringatnya sendiri. Tanpa uluran tangan orang lain. Dari sinilah, awal mula gesekan antar manusia. Apalagi bila daerah lingkungannya merupakan komunitas orang yang berkecukupan. Ada kecenderungan saling menjauh.

Sebenarnya, ketidakharmonisan dalam masyarakat bermuara dari keluarga. Percikan api justru dimulai dari keretakan hubungan keluarga. Baik gangguan tautan suami istri, keluarga, saudara atau tetangga. Peristiwa ini karena kelalaian menempatkan hak dan kewajiban. Satu sisi terlalu menuntut hak, sementara kewajibannya terabaikan. Lebih parah lagi, bila segenggam masalah keluarga dibawa ke tempat kerja. Maka barapun semakin membesar. Semakin runyamlah kenyamanan dalam bermasyarakat.

Sering kita dengar dan mengalami di kantor ataupun di kampung, bahwa ada orang yang bermental toxic (racun). Dimanapun ia berada, selalu membuat keruh suasana. Belum puas seandainya temannya terkena racun, atau menjadi korban akibat dari gelagatnya. Ia merasa bahwa dirinya yang paling benar. Ia pongah, bahwa ucapannya harus selalu diikuti.

Bukan hanya dalam hidup bertetangga. Bermedia sosialpun sering didapati orang yang berkelakuan toxic. Bahkan akibat dari bermedia sosial dampaknya semakin melebar. Jejak digitalnya akan terdeteksi sejauh orang yang menerima aksesnya.

Bagaimana menyikapi kejadian yang seperti itu. Cara yang paling efektif adalah dengan filter yang kita miliki. Kita sendiri yang paling mampu mengelolanya. Jangan sampai tergoda isu, apalagi terseret dalam pusaran toxic. Sabar adalah sikap terbaik. Sabar ketika diganggu atau mendapat gesekan orang lain adalah amal shalih yang mulia. Tatkala dikalahkan, dikuasai, atau diganggu dan disakiti orang lain bersegeralah memperbanyak istighfar. Dengan mengucapkan istighfar, Allah akan membela.