Hanah binti Faqudz

Ramadhan 1443 H – Hari Keduapuluh

“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzrkan kepada Engkau anak yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Kare itu terimalah nadzar itu kepadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Ali Imran : 35)

Hanah binti Faqudz adalah istri Imran. Imran sendiri bukan seorang nabi, sama halnya seperti Lukman. Hanah adalah ibu dari Maryam (ibunya Nabi Isa as), sehingga Hanah binti Faqudz adalah nenek Nabi Isa as. Beliau adalah seorang al Muharrar  artinya, orang yang hanya mengikhlaskan diri untuk beribadah kepada Allah semata. Tidak mengurusi urusan dunia.

Dikisahkan bahwa Hanah besama suaminya adalah orang yang taat. Berdua hidup bahagia. Ada kegalauan pasangan suami istri tersebut. Sampai tua renta, tak juga diberi momongan. Allah belum berkenan memberikan keturunan, tapi melimpahkan karunia kesabaran dan keimanan. Hingga suatu ketika, Allah mengabulkan permintaannya. Hanahpun mendapati janin bergerak dalam rahim. Sungguh, bila Allah berkehendak, segalanya pasti terjadi.

Setelah lahir, dan ternyata anaknya perempuan, Hanahpun berdoa lagi agar anaknya kelak kelak menjadi pelayan Tuhan. Anak tersebut diberi nama Maryam. Dalam perjalanan Maryam tidak jauh berbeda dengan ibunya. Tumbuh menjadi seorang yang ahli ibadah. Allah berkenan memilih Maryam untuk beribadah.

Maryam kecil diasuh oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Limpahan kasih sayang seperti sungai yang tak akan kering. Cermin keluarga yang harmonis dan sakinah mawaddah wa rahmah. Maryam tumbuh menjadi seorang perempuan yang bertanggungjawab, berdikari dan taat kepada orang tua.

Mukjizatpun datang. Maryam hamil tanpa seorang suami. Inilah momen yang dikehendaki Allah, yaitu menguji masyarakat sejauh mana ketakwaan mereka terhadap Tuhan. Ternyata memang benar bahwa keimanan tidak harus sejalan dengan akal. Keimanan lebih dominan dalam wilayah keyakinan. Keyakinan dipupuk dan berdiri dari ajaran Nabi-nabiNya.

Setelah masyarakat mengusir maryam dari komunitasnya, Nabi Ispun lahir dari rahim Maryam yang suci. Untuk membuktikan bahwa Maryam adalah orang yang bersih, maka Nabi Isa sewaktu bayi dapat berbicara, sekaligus membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Allah memilih Nabi Isa untuk menjadi panutan pada kaumnya.

Pelajaran yang dapat diambil antara lain, Allah memiliki hak untuk memilih seseorang untuk menjadi contoh teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Keimanan seseorang tidak harus sejalan dengan akal. Hati nurani lebih mengedepankan humanis, kebersamaan dalam perbedaan. Siapapun berhak untuk menjadi pemimpin, tak terkecuali seorang wanita. Hanah dan Maryam membuktikan.