Harapan MGMP TIK DIY

Beberapa waktu yang lalu, sekolah kami menerima tamu Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) tingkat SMP se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap bulan sekali. Meliputi 5 Kabupaten dan Kotamadya. Tercatat hanya 60 anggota yang lumayan aktif, dari ratusan sekolah tingkat SMP se DIY.

Ada 3 misi besar yang hendak diusung oleh MGMP, yaitu:

  • Pertema, Pengembangan Kurikulum. Dari pengalaman mengajar beberapa tahun terakhir, guru TIK mengalami persoalan yang berbeda-beda. Sekolah yang telah menyediakan laboratorium komputer ¬†secara lengkap, hampir tidak ada hambatan yang berarti. Sekolah dapat menyelesaiakan kurikulum sesuai dengan silabus yang telah digariskan pemerintah. Namun, akan berbeda bila sekolah yang belum memiliki komputer sebagai alat peraga.

Permasalahan lain yang muncul adalah, setelah siswa trampil menggunakan computer, bahkan materi dapat diselesaikan sebelum waktu yang ditetapkan usai, materi apa lagi yang hendak diberikan kepada siswa? Lebih jelasnya, siswa yang telah mahir menggunakan Microsoft office, lalu materi apa berikutnya? Padahal waktunya masih luang.

Dari kondisi yang demikian, ternyata guru mengembangkan kurikulum yang berbeda-beda. Ada yang memperluas dengan memberi materi linux, ada yang lebih senang dengan pemrograman, dan tidak sedikit yang menyalurkan ke web. Itulah salah satu agenda yang dibicarakan dalam forum MGMP.

  • Kedua, Pendanaan. Organisasi tanpa keuangan sama dengan perkumpulan tanpa tujuan. Keuangan digunakan untuk menggerakkan roda organisasi. Keuangan juga bisa dimanfaatkan untuk mendorong organisasi, agar lajunya bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

MGPM TIK propinsi DIY relatif besar. Cakupan sasaran yang hendak dibidikpun besar, yaitu agar kompetensi pelajaran TIK dapat diserap oleh seluruh siswa SMP tingkat propinsi. Seperti yang dipaparkan diatas, bahwa kondisi antar sekolah belum merata. Artinya, ada amanah bagi guru-guru TIK, yaitu mendorong tercapainya kurikulum yang telah ditetapkan. Mengandalkan uluran tangan pemerintah? Pekerjaan menunggu sama saja dengan mengharap ketidak pastian.

  • Ketiga, Publikasi. Target ketiga yang hendak diraih adalah pembuatan web. Persoalan klasik, tapi terus muncul dalam dunia internet. Membuat web itu perkara mudah. Namun rumah yang sudah dibangun dengan indah, tidak disertai dengan pengadaan perabot. Dari luar tampak megah, setelah ditengok ke dalam, kosong melompong.

Membuat web bukan menciptakan pelari cepat. Mengelola web seperti maraton. Sedikit tapi terus menerus. Tidak bosan dengan waktu. Update tulisan dalam web menjadi sebuah kewajiban, melebihi dari kewajiban membuat web. MGMP TIK, bila tidak ingin dipandang sebelah mata, maka mengelola web menjadi prioritas utama. Andai tidak serius manangani web ini, maka lebih baik tujuan yang ketiga dihapus saja.

  • Keempat, Kurtilas. Inilah hambatan yang paling krusial. Dalam kurikulum tiga belas, TIK tidak masuk dalam pelajaran utama. TIK hanya sebagai pengantar atau lebih tepatnya perantara dari sekian banyak mata pelajaran. TIK bukanlah mata pelajaran yang berdiri sendiri. Perjuangan guru TIK memang cukup berat. Di saat Negara membutuhkan ahli dalam bidang computer, dibukalah pintu lebar-lebar jurusan computer. Setelah terpenuhi, bahkan melebihi stock yang dibutuhkan guru TIK khususnya¬† tidak diberi tempat yang semestinya. Wajar bila rekan guru TIK dalam masa perjuangan demi sebuah pengakuan.