Hati Sehat, Hati Mati dan Hati Sakit

Jum’at Berkah

“Pada hari yang harta dan anak-anak tiada berguna. Kecuali barangsiapa yang datang kepada Allah dengan hati yang salim” (Asy-Syu’ura: 88-89)

Pada ujung ayat, termaktub kata qalbun salim yang artinya kalbu yang selamat atau bersih. Ada pula yang memaknai hati yang mengenal Allah dan meyakini hari kiamat. Manusia mengungkapkan hati yang sehat berbeda-beda kalimatnya. Titik temu unkapan itu adalah terbebasnya dari syahwat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. Hati yang sehat adalah hati yang untuk menerima dan mengutamakan kebenaran hanya dengan keimanan dan pengetahuan. Daya tangkap dan kepatuhannya terhadap kebenaran baik dan sempurna.

Hati yang mati merupakan kebalikan dari hati yang sehat. Hati tanpa kehidupan. Ia tidak mengenal Tuhan serta tidak beribadah kepada-Nya. Hati yang mati adalah yang memperturutkan hawa nafsu. Mereka tidak pandai dalam mengelola nafsu. Hawa nafsu merupakan imamnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah pengendalinya. Hati semacam ini sibuk dengan pikiran untuk memperoleh ambisi duniawi dan cinta dunia. Tidak menerima dan tidak patuh pada kebenaran.

Hati sakit adalah hati yang mempunyai kehidupan, tetapi berpenyakit. Sesekali kehidupan akan tampak padanya, tetapi kadang-kadang meredup, yang terlihat hanya penyakitnya. Tergantung mana yang lebih dominan diantara keduanya. Hati yang sakit adalah hati yang apabila penyakitnya lebih berat, maka akan cenderung seperti hati yang mati dan keras. Sebaliknya, bila kesehatannya muncul, maka ia akan merapat seperti hati yang sehat.

Dalam hati ini terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan yang semuanya merupakan bahan baku dalam kehidupannya. Namun, di dalamnya juga terdapat kecintaan dan kebanggaan kepada hawa nafsu, serta ambisi untuk memperoleh untuk dirinya sendiri. Orang lain tidak dianggap sama sekali. Dengki, sombong, bangga terhadap dirinya sendiri, tetap melekat dan sewaktu-waktu muncul dengan tidak terduga. Dua sifat ini keadaannya seimbang. Tinggal bagaimana hati (sebagai alat pengedali) akan memainkannya.

Kalau diibaratkan sebuah tongkat, hati yang sehat berada di salah satu ujung, sementara ujung yang lain bersemayam hati yang sakit. Keduanya saling menjauh. Sifatnya saling berkebalikan. Keberadaan hati yang sakit ada di tengah. Kedudukan di tengah selalu tidak mudah. Ibarat mangsa selalu menjadi rebutan. Ditarik kekiri selalu dilawan kubu kanan. Condong kekanan, kelompok kiri selalu menahan. Bila hati sedang sakit, bijak-bijaklah menerima uluran tangan orang lain.

Terinspirasi dari buku “Ighatsul Lahfan” karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah