Istidraj (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Keduapuluhsembilan

Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”

(HR Ahmad)

Istidraj berasal dari kata daroja yang artinya naik satu tingkat atau satu level. Dari sudut istilah bermakna memberikan apa saja kepada hambanya yang diinginkan di dunia, untuk menambah kesesatan hingga setiap harinya akan menjauh dari radius pantauan Allah swt. Hingga pad akhirnya akan diganti dengan bencana.

Ada pula yang menafsirkan dikeluarkan dari garis lurus kebenaran tanpa disadari. Allah SWT memperlakukan apa yang dia kehendaki, dibukakan segala pintu, hingga orang tersebut lupa diri. Ibaratnya tidak ingat bahwa sesudah panas pasti ada hujan, sesudah lautan tenang gelombang pasti datang. Mereka dibiarkan berbuat maksiat dengan hawa nafsunya hingga tersesat jauh.

Kita lahir bukan merupakan pilihan. Tetapi, hidup adalah pilihan. Sebagai orang umat, Allah telah memperingatkan dua hal, yaitu diperintahkan untuk mentaati segala perintah dan meninggalkan semua larang Allah. Manusia dipersilahkan memilih menjalankan perintah atau berpaling dari aturan-Nya. Dua pilihan ini telah dicontohkan oleh Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw.

Hidup di dunia ini tetap berlaku sunatullah (ketentuan hukum Allah). Untuk memahaminya, sering-seringlah membuka peristiwa dari kehidupan masa lalu. Bila sebuah bangsa ataupun umat menolak perintah-Nya, pasti Allah akan murka dan menciptakan sebuah bencana. Andai rambu-rambu ini tetap tidak dindahkan, Allah akan memberi pelajaran lebih buruk. Cuma caranya ditunda. Artinya Allah memberikan kesenangan sesuai keinginan manusia yang berlaku congkak, hingga mereka mendapat julikan fajir (melampaui batas).

Allah SWT melimpahkan rezeki, kebahagiaan, dan kenikmatan dunia lainnya kepada setiap orang yang Dia kehendaki. Kenikmatan tersebut bisa menjadi peringatan akan azab Allah apabila diberikan kepada orang yang sering melalaikan ibadah dan merasa tenang dalam maksiatnya.

Inilah makna dari Istiraj, melakukan tipu daya dan makar kepada-Nya. Inilah ketentuan hukum Allah yang tidak akan berubah. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Ali Imran: 137).

Orang mukmin akan merasa takut dengan istidraj, yakni kenikmatan semu yang sejatinya murka Allah SWT. Namun sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman akan beranggapan bahwa kesenangan yang mereka peroleh merupakan sesuatu yang layak didapatkan.
Biasanya, istidraj diberikan kepada orang-orang yang mati hatinya. Mereka adalah orang yang tidak merasa bersedih atas ketaatan yang ditinggalkan dan tidak menyesal atas kemaksiatan yang terus dilakukan.