Kalimatun Sawa

Jum’at Berkah

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)’.”

Ali Imran: 64

Suatu Ketika, Rasulullah SAW kedatangan tamu dari rombongan kaum Nasrani Najran dan Yahudi Madinah. Disela-sela pertemuan tersebut Rasulullah mengajak mereka untuk masuk Islam, karena agama mereka asal-usulnya juga agama Tauhid. Yaitu menyembah hanya kepada Allah. Namun dengan berbagai macam dalih, mereka tetap mempertahankan keyakinannya. Sehingga pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesimpulan. Namun Allah memerintahkan supaya mereka berseoakat dalam urusan keduniaan.

Allah menurunkan ayat tersebut tidak lain agar manusia saling kerja sama untuk mencapai kemaslahatan. Dalam hal akidah memang tidak ketemu. Tetapi konsep kalimatun sawa adalah universal. Dari berbagai macam agama, suku, budaya, ekonomi dan lain-lain hendaknya manusia tetap semangat untuk melakukan gotongvroyong. Keyakinan boleh berbeda, tapi manakala ada bencana, seyogyanya bahu membahu meringankan beban mereka. Bersama-sama membangun jembatan, membuat mudah bagi siapa saja yang mengalami kesulitan, memerangi kebodohan.

Oleh karenanya, pada awal ayat tersebut ada kata-kata kalimat. Artinya melakukan sesuatu yang memberi faedah. Kemudian kalimat tersebut diperjelas lagi menjadi kalimat yang adil, pertengahan. Sebagai seorang pemimpin agama dan pemimpin negara, Rasulullah harus bersifat adil. Beliau sadar bahwa di lingkungannya, tidak semua beragama Islam.

Bangsa Indonesia yang telah mengaku bahwa Pancasila sebagai pegangan hidup dalam berbangsa dan bernegara, mestinya memegang konsep Kalimatun Sawa. Bersepakat bersama, atau common platform. Merawat Indonesia adalah urusan keduniaan. Membela dan menjunjung tinggi martabat bangsa urusan hidup bermasyarakat. Tidak boleh agama tertentu merasa paling benar.

Nahdhatul Ulama (NU) menggelorakan sikap Mu’hadah wathaniyah (perjanjian kebangsaan) sementara Muhammadiyah mengusung konsep Darul Ahdi was-Syahadah (negara perjanjian dan kesaksian atas pembuktian). Mu’ahadah bermakna ikatan perjanjian luhur (kesatuan). Wathaniyah. Jadi istilah Mu’ahadah wathaniyah merupakan konsep yang menggambarkan adanya kesepakatan untuk hidup bersama dalam satu wadah yaitu negara yang diilhami oleh semangat cinta tanah air.

Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan anugerah Allah atas perjuangan seluruh elemen rakyat yang mengandung jiwa, pikiran, dan cita-cita luhur kemerdekaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.