Kecerdasan Buatan : Tinjauan Filsafat

Ditinjau dari perkembangannya, robot mungkin yang paling cepat, disamping teknologi informasi (TI). Pengembangan riset untuk robot demikian besar, karena kalau ditelusuri, manusia menciptakan robot tak lain untuk membantu meringankan pekerjaan manusia. Secara mekanik, hasil pekerjaan robot berlipat ganda, bila dibandingkan dengan tangan manusia. Perusahaan, pabrik bahkan di lembaga-lembaga, memanfaatkan kecanggihan robot.

Robot bukan hanya menjadi sahabat dalam melakukan pekerjaan secara mekanik, sekarang robot juga telah memiliki rasa. Sama seperti perasaan pada manusia. Senang, marah, cemburu adalah tipe robot masa kini. Coba bayangkan andaikata dalam sebuah pertemuan, Anda tiba-tiba digampar oleh robot, hanya karena ucapan Anda menyinggung perasaan robot.

Terciptanya robot yang demikian itu, merupakan awal bagi lahirnya teknologi kecerdasan buatan yang mampu menyamai tingkat kecerdasan manusia. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence adalah sesuatu yang ditanam pada mesin untuk diberi pengetahua, kepintaran untuk melakukan kegiatan. Penanaman kecerdasan buatan tersebut memiliki tujuan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan segala hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia.

Apakah perkembangan robot yang demikian cepat itu, lantas merupakan ancaman bagi manusia? Jawabnya kembali kepada manusia sendiri sebagai pencipta robot. Apabila manusia sudah tidak mampu lagi membedakan perilaku manusia dan perilaku mesin, berarti mesin di situ memiliki kecerdasan yang sama dengan manusia.

Mungkin secara pengetahuan (epistemology) sama. Namun manusia digerakkan oleh ruh. Sedangkan robot digerakkan lewat energi. Ruh bukan hanya urusan hidup-mati, tapi ruh sebagai sesuatu yang hidup. Ruh yang mendorong kekuatan akal untuk bergerak.

Robot dapat beraktivitas, karena disuntik dengan kecerdasan buatan. Kecerdasan ini tentu ranah dari pengetahuan atau epistemology. Oleh karenanya dapat dipelajari, sama seperti mempelajari filsafat.

Dalam keilmuan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan memunculkan pertanyaan seperti apa itu hakekat kecerdasan? Apakah ada perbedaan antara kecerdasan buatan dengan kecerdasan natural? Apakah kecerdasan buatan juga memiliki kandungan etika? Apakah dengan kecerdasan dapat menunjukkan adanya kesadaran?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu menjadi kajian filsafat. Seorang filosof Amerika Serikat, John Searle membuat eksperimen pikiran yang membuktikan bahwa kecerdasan yang kita miliki itu bukan sekedar kemampuan untuk menampilkan perilaku cerdas, melainkan juga kemampuan untuk memahami.

Dari eksprimen John Searle dapan ditarik garis Apakah kecerdasan buatan masih dapat disebut kecerdasan meskipun tidak disertai dengan pemahaman seperti halnya kecerdasan pada manusia?

Sumber bacaan, https://www.kompas.id/baca/opini/2022/06/22/kecerdasan-buatan-dan-masa-depan-kemanusiaan