Kemana Uang Sekolah Mengalir

Mengelola keuangan tidaklah mudah. Hal ini tercermin dari uang pribadi. Neraca keuangan yang kita kelola, apakah sudah seimbang atau belum, atau malah lebih besar pasak dari pada tiang, akan terlihat dan kita rasakan. Mengatur keuangan yang baik tidak tergantung langsung dengan besar kecilnya uang. Apakah dengan uang melimpah akan dengan mudah mendapatkan hasil yang bermanfaat? Atau, bisa jadi, dengan uang sedikit tetapi yang dikelola dengan baik, akan mendatangkan manfaat yang besar.

Mengatur uang masuk dan keluar dalam sebuah institusi akan lebih rumit dan cukup repot, bila tidak didasari pada manajemen keuangan yang baik. Uang yang ada di lembaga atau institusi adalah uang amanah, yang harus dibelanjakan dengan baik dan benar. Tidak hanya menyangkut pertanggungjawaban saja, namun penggunaan uang yang berdaya gunalah yang mesti diperhatikan. Transparansi saja tidak cukup. Harus ada nilai lebih yang perlu diraih.

Uang sekolah termasuk amanah dari orang lain yang harus dikelola dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang memiliki manfaat yang besar. Focus untuk mengantarkan siswa supaya menjadi manusia yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. Apapun barang dan jasa yang harus dibelanjakan, asal menghasilkan siswa yang berbudi luhur, mencapai kecerdasan yang optimal, orang lain akan tetap menaruh kepercayaan kepada sekolah.

Dalam tulisan berikut ini, saya tidak akan membahas bagaimana cara mendapatkan dana, namun bagaimana meramu keuangan yang ada di sekolah. Sekolah swasta ataupun negeri sama saja. Sekolah negeri maupun swasta sama-sama memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Secara garis besar, uang sekolah dibelanjakan untuk pembelian barang dan jasa. Pembelian barang meliputi pemenuhan kebutuhan untuk kegiatan pembelajaran, bisa berujud pengadaan barang yang baru, perbaikan ataupun pembaharuan barang. Belanja jenis barang seperti ini relatif mudah. Rumusnya cukup sederhana “asal ada uangnya”.

Pengeluaran yang lain menyangkut jasa. Honorarium mengajar, tenaga administrasi dan pengeluaran lain yang dianggap jasa. Biasanya cukup rumit bahkan nyaris ramai. Karena menyangkut uang yang akan dibagikan kepada orang lain ataupun diri sendiri.

Bila pengelolaan keuangan sekolah hanya sebatas pada dua keran itu, maka sekolah akan mengalami stagnan. Berhenti dalam arti tak ada kemajuan dalam prestasi. Sebab sumber keuangan hanya lari ke barang atau jasa.

Bila sekolah tidak akan mengalami proses jalan ditempat atau bahkan kemunduran, maka harus dibuka sebuah keran lagi yaitu “sumber daya manusia”. Dana jalur ini dapat berupa : pelatihan, mengikuti workshop, membudayakan penelitian, mendatangkan nara sumber yang kompeten dll. Sudahkan sekolah menyediakan alokasi dana untuk peningkatan SDM?

Ada beberapa sekolah yang telah menyisihkan dana yang cukup melimpah. Namun tidak sedikit, sekolah yang hanya sekedar mencantumkan anggaran untuk SDM, tanpa didasari analisa kebutuhan yang real. Diibaratkan hanya air yang menetes. Bandingkan dengan pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa. Bahkan ada juga sekolah yang sama sekali tidak mau memikirkan potensi manusianya.

Sudah saatnya sumber dana diberdayakan dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan membagi anggaran yang berimbang. Lebih mulia lagi, bila keran SDM akan mendapat porsi yang cukup besar. Limpahan dana yang cukup deras, akan menghasilkan SDM yang berkualitas, sesuai dengan tuntutan jaman.