Kembali kepada Diri Sendiri

Jum’at Berkah

“Barang siapa yang melakukan kebaikan, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa melakaukan keburukan, maka tiada yang mereka dapatkan kecuali keburukan itu berpulang kepada disi sendiri.” (al Qashash : 84)

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka dunia ini semakin maju dan mudah. Orang semakin malas. Karena teknologi sudah mengerjakan yang diinginkan manusia. Banyak pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh manusia, namun digantikan oleh mesin-mesin cerdas. Salah satu efeknya membawa kepada sifat individualisme. Tidak butuh bantuan orang lain.

Tangan-tangan raksasa telah menggantikan tangan mungil, yang kekuatannya terbatas. Kehadiran komputer menjadi status manusia tersingkir dari rutinitas pekerjaan. Komputer telah menyulap dunia, yang tadinya berjalan lamban, menjadi cepat. Sesaat kita berpikiran bahwa, kita tidak mampu mengimbangi kecepatan roda perputaran teknologi.

Tergilasnya sumbu-sumbu kehidupan, menjadikan manusia melakukan pekerjaan yang instan. Mulai dari kuliner hingga perilaku copas. Kita tidak lagi menikmati proses yang seharusnya dilakukan langkah demi langkah. Bumbu masak yang semestinya diolah langsung dari bahan-bahan di kebun, sekarang tergantikan dengan bumbu instan yang telah dibungkus rapi. Soal rasa tentu sangat jauh berbeda. Namun, waktulah yang mengejar, hingga tak sempat meracik bumbu asli. Begitulah, semua dikembangkan manusia demi kemudahan manusia itu sendiri.

Perilaku instan inilah yang berkembang menjadi perilaku jalan pintas. Mereka terkadang tidak mengindahkan tata krama yang telah dibangun oleh nenek moyang. Mereka juga tidak bercermin pada norma-norma agama, sebagai pegangan hidup. Aturan kesusilaan yang dijaga oleh masyarakat, diterabas. Mereka berdalih ini bisnis. Uang yang harus diraih. Pertimbangan utamanya untung-rugi.

Mari kita cermati bagaimana orang yang telah melakukan jalan pintas, bila tersandung batunya. Penipuan, pencurian, perampokan, dan lain-lain. Mereka melakukan tidak perlu dengan tenaga yang super, cukup menguasai jaringan internet. Banyak tayangan di media memberitakan tentang kronologi kejadiannya. Finishnya dapat ditebak. Minta maaf, menyesal dan tidak akan mengulangi lagi. Kalimat pamungkas sebagai tameng untuk membela diri.

Kesuksesan akibat jalan pintas, tidak akan langgeng. Kesuksesan itu hanya fatamorgana. Mencari kemuliaan dunia dengan cara jalan pintas, seakan menjadi hal yang biasa bagi mereka yang menganut perilaku instan. Mereka tidak sadar bahwa semua akan kembali kepada dirinya sendiri.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *