Sebenarnya ada semacam keraguan bila saya menulis tentang kesehatan. Bukan bidang saya untuk menulis perihal kesehatan, apalagi dengan materi yang spesifik, yaitu kemoterapi. Dalam dunia kedokteran, kemoterapi adalah cara pengobatan yang tergolong baru. Hanya ada beberapa rumah sakit dan beberapa dokter yang ahli dalam bidang ini. Tulisan berikut ini sebenarnya dipicu oleh rasa rasa penasaran.

Secara kebetulan saya membaca tiga buah buku dengan materi yang sama. Buku itu saya baca autibiografinya orang yang masyhur. Ketiga buku ini merupakan bagian dari perjalanan seseorang dalam rangka usaha untuk menyembuhkan penyakitnya.

Ketiga buku itu adalah, pertama “Survivor’s Story”, kisah inspiratif pemegang rekor tujuh kali memenangi Tour De France setelah berjuang menaklukkan kanker.  Buku yang lebih tepat otobiografinya Lance Armstrong. Kedua buku “Ganti Hati” karya Dahlan Iskan. Buku ini merupakan tulisan bersambung yang telah dimuat di harian Jawa Pos. Ketiga. buku Tatkala Leukimia Meretas Cinta”, buah karya mantan Menteri Kesehatan Siti Fadlilah Supari yang berbagi pengalaman merawat almarhum suaminya. Saat diketahui kepastian jenis penyakit yang dialami suaminya, tim dokter memberikan dua alternatif cara pengobatan, salah satu yang tawarkan adalah dengan kemoterapi. Tapi akhirnya, alternatif ini tidak dipilih.

Kecuali buku dari Lance Armstrong, kedua buku tersebut ditulis sendiri. Sehingga gaya penuturannya  mengena. Pilihan katanya lebih emosional, membuat pembaca seakan mengalami sendiri. Dahlan Iskan adalah seorang wartawan, Siti Fadlilah adalah seorang peneliti.

Pertanyaanya adalah, mana yang akan ditumpas oleh kemoterapi itu terlebih dahulu : kankernya atau aku? Hidupku menjadi bak tetesan infuse yang panjang, sebuah rutinitas yang menyebalkan. Jika aku tidak kesakitan, aku pasti sedang muntah, dan jika aku tidak muntah, aku pasti sedang memikirkan apa yang kuderita, aku bertanya-tanya kapan ini akan berakhir. Begitulah salah satu penuturan Ibu Siti Fadlilah.  

Rasa mual itu selalu ada, bersamaan dengan pengobatan itu sendiri. Kanker menghadirkan rasa sakit yang tidak jelas, tapi kemoterapi merupakan serangkaian ketakutan yang mencekam tiada akhir, sampai aku mulai berfikir bahwa pengobatan itu sama buruknya, atau bahkan lebih buruk lagi, dari penyakit itu sendiri ……. tutur Lance Armstrong.

Dahlan Iskan menulis : Setelah dikemo itu, rasanya luar biasa tidak karuan. Sakit, mual, mulas, kembung, melintir-lintir, dan entah berapa jenis rasa sakit lagi menjadi satu. Sampai-sampai saya tidak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit.

……. Kalau dalam satu hari itu tidak reda, saya pilih mati. Tidak ada gunannya hidup dalam keadaan seperti itu. Saya minta mati saja……

Tapi saya memutuskan tidak mau lagi dikemo. Tidak tahan. Saya akan cari jalan lain saja. Atau lebih baik mati saja. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Juga sudah melebihi umur ibu saya, atau umur kakak saya, atau umur paman-paman saya.

Dari ketiga buku itulah saya jadi mengerti (sangat) sedikit tentang cara menyembuhkan penyakit dengan cara kemoterapi. Bila kita mendengar kata kemoterapi, akan terlintas dalam pikiran kita tentang penyakit yang mengharuskan dilakukan kemoterapi seperti kanker, tumor atau jenis karsinogenik lainnya. Kemoterapi adalah upaya untuk membunuh sel-sel kanker dengan mengganggu fungsi reproduksi sel. Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker.

Dalam beberapa penelitian, kemoterapi mampu menekan jumlah kematian penderita kanker tahap dini, namun bagi penderita kanker tahap akhir / metastase, tindakan kemoterapi hanya mampu menunda kematian atau memperpanjang usia hidup pasien untuk sementara waktu. Bagaimanapun manusia hanya bisa berharap sedangkan kejadian akhir hanyalah Tuhan yang menentukan.

Dengan pengetahuan yang (sangat sedikit) ini, semua menjadi jelas bahwa siapapun tidak ingin terjangkit penyakit. Penyakit berat atau ringan, besar atau kecil, stadium rendah atau tinggi, namanya penyakit akan mengganggu aktifitas. Merepotkan orang lain. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang mestinya untuk pengembangan pendidikan, tempat tinggal atau pengembangan usaha, hanya dipakai untuk penyembuhan. Pada akhirnya kita tetap akan memilih sehat lahir dan batin.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *