Kenangan Desember

Bulan akhir atau bulan awal mudah diingat. Januari permulaan tahun yang dilingkupi dengan  penuh harapan dan asa. Bulan penjejak kaki pertama dalam melangkah mengarungi waktu selama satu tahun ke depan. Banyak angan yang akan ditabur dalam kurun waktu satu tahun kedepan. Ranjau telah dipasang, agar langkah tidak berbelok arah. Namun tak sedikit, januari merupakan bulan yang biasa saja. Tak beda jauh dengan hari-hari di bulan yang lain. Hidup mengalir apa adanyah. Tanpa target apalagi tujuan yang hendak di raih.

Desember adalah bulan pungkasan. Bulan prestasi, bulan evaluasi, atau bulan yang hambar. Tak tergores segarispun. Bulan akhir di kurun waktu satu tahun, merupakan bulan lembar terakhir dalam catatan hidup. tersanjung, terpuruk? itu adalah rasa.

Adakah bulan desember memiliki kenangan, sobat?

Pasti ada. Utamanya saya pribadi. Bulan desember adalah kenangan yang tak pernah terlupakan. Karena bulan itu, dua insan terpagut ikrar dalam mengarungi hidup baru. Itu dulu.  Sekarang sudah lama. Ikut ambil bagian dalam penambahan jumlah penduduk. Tepatnya 19 Desember. Pas benar dengan tanggal 19 desember 1948. Agresi militer tentara Belanda ke Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Sebagai orang yang cinta sejarah, sayapun mengambil hikmah dari peristiwa itu. Melakukan agresi pula.

Demi mengangkat derajad siswa agar terlihat berprestasi , guru dengan suka rela membuat nilai sampai lembur. Dengan takzim, mengikuti rumus yang telah ditentukan. Dilingkungan kami, setiap guru membuat nilai rapot namanya ngaji (ngarang biji). Kalau ada toko yang yang memberi diskon sampai 70%, masih kalah dengan pemurahnya seorang guru. Nilai bisa didongkrak sampai 100%, bahkan lebih. Ujung-ujungnya hanya membuat pejabat pemerintah girang. Wajib belajar 9 tahun tercapai.

Umat Nasranipun berbahagia dengan bulan desember. Hari Rayanya mereka. Hari spiritual mereka. Saat tepat untuk melakukan instropeksi diri, membandingkan pola hidup dengan Yesus Kristus. Tak beda jauh dengan umat Islam yang merayakan setiap Idul Fitri.

Pegawai Bank merupakan orang tersibuk di dunia. Melebihi seorang polisi yang mengatur arus lalu lintas kendaraan, dan mengatur arus lalu lintas dompet. Tutup buku di Bank adalah ritual yang wajib dilakukan. Karena disana akan terlihat neraca keuangan selama satu tahun. Lembur, sudah pasti. Sesibuk-sibuknya pegawai bank toh yang ditulis cuma 10 angka. Angka 0 sampai 9. Boleh saja bank memiliki aset dari milyar sampai trilyun. Angkanya cuma 0 sampai 9. Jadi, saranku jangan berpusing-pusing. Sejauh-jauh menghitung, ujung terakhir Cuma angka 9.