Kepala Sekolah (bukan) Manusia Super

Kepala Sekolah (bukan) manusia super.

Semua orang pasti ingin memiliki keinginan. Siapa sih yang tidak punya kemauan? Keinginan untuk maju dan lebih baik? Keinginan muncul karena naluri memiliki tujuan. Kemauan yang kuat ditunjang dengan bakat akan menjadi kepribadian yang tangguh.  Tidak terkecuali bagi seorang guru.

Guru sudah pasti memiliki tujuan. Entah itu dia dalami sehingga menjadi guru yang professional. Atau bahkan memiliki track record yang piawai dalam mengelola sumber daya manusia (SDM). Guru yang bisa menularkan ilmu kepada siswa, niscaya akan dinenang saat siswa menjadi orang. Guru yang mempunyai kelebihan dalam manajemen, meniti karier untuk menjadi seorang kepala sekolah.

Tahapan seorang guru dalam meniti jenjang karier, secara strukur organisatoris adalah menjadi kepala sekolah. Melalui pelatihan, kursus, dan magang, menjadi kepala sekolah memiki tahapan-tahapan tertentu yang telah ditentukan. Kriteriapun telah ditetapkan. Menurut ketentuan yang berlaku, menjadi seorang kepala sekolah harus mampu menjadi : manajer, pemimpin, wirausahawan, pencipta iklim kerja, pembina tata usaha, pendidik. Ya, ada lima macam kemampuan yang harus dimiliki. Bahkan untuk sekolah-sekolah swasta yang bernaung dibawah yayasan masih ditambah lagi beban kemampuan, sesuai misi yayasan yang bersangkutan. Mampukah kepala sekolah memikul beban yang harus diemban?

Dilihat dari beberapa prestasi yang ditorehkan oleh sekolah nampaknya seseorang untuk menjadi kepala sekolah cukup mampu. Ia memiliki prestasi untuk mengangkat pamor sekolah. Ia juga menangguk karier secara pribadi. Namun, seberapa besar persentase sekolah yang berprestasi dibanding dengan jumlah sekolah dalam komunitas setempat?

Dari lima kriteria, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengayuh sampan dalam medan persaingan. Selebihnya hanya sebagai penggembira. Bila demikian, sekolah penggembira mau dibawa kemana? Apakah tetap merasa senang sebagai peserta pinggiran?

Negara bersama masyarakat yang memiliki tanggungjawab sebagai penyelenggara pendidikan seharusnya mampu menciptakan iklim kerja yang kondusif. Sekolah negeri tak hanya milik pemerintah saja, sebaliknya sekolah swasta tidak hanya milik yayasan. Keduanya adalah sarana potensial untuk mendidik masyarakat agar lebih bermartabat. Menjadi sekolah yang bernuansa prestasi tidak hanya dibebankan kepada kepala sekolah seorang diri. Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk mengangkat derajad pendidikan. Namun harus dipilah-pilah kewajiban dan haknya. Masyarakat tidak dibenarkan intervensi kepada pihak sekolah manakala sudah masuk dalam wilayah kewenangannya. Demikian pula sekolah seyogyanya berbaur dengan masyarakat.

Bila iklim yang diciptakan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat berjalan sinergis, pendidikan akan menjadi pilihan yang menyenangkan. Pendidikan akan menjadi mitra dalam setiap menjawab problem yang timbul di masyarakat. Kepala sekolah bersama dengan keluarga besar yang ada di sekolah lebih focus pada pembinaan kepribadian dan prestasi siswa. Kepala sekolah tidak lagi seperti kue, dari bawah dipanasi, dari atas dipanasi. Pemerintah atau penyelenggara seperti hendak memacu kuda, dari orangtua siswa menuntut. Kepala sekolah bukan manusia super yang bisa mengatasi semua pekerjaan. Kepala sekolah juga bukan manusia yang hebat, yang mampu memenuhi lima kriteria tanpa cacat sedikitpun.