Kepemimpinan Profetik

Jum’at Berkah

Profetik terambil dari kata prophet, yang berarti Nabi. Kepemimpinan profetik boleh diartikan sebagai kepemimpinan model Nabi. Cara ini memiliki tujuan untuk menegakkan misi langit yang ditujukan bagi masyarakat sekitar. Karena, setiap Tuhan menurunkan Nabi, dapat dipastikan bahwa kondisi masyarakat setempat telah mencapai titik terendah sebagai derajat kemanusiaan.

Amanat yang diemban oleh setiap Nabi tidak lain hanyalah untuk keselamatan, kedamaian dan kasih sayang untuk seluruh umat. “Rahmatan lil’alamin” tidak hanya terbatas pada umat Islam, melainkan manusia secara keseluruhan dan alam semesta. Tugas yang maha berat. Oleh karenanya, Tuhan memberi pekerjaan ini kepada manusia pilihan. Tidak hanya sebagai orang yang terpilih, namun juga terjaga.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW sendiri menjamin keamanan kepada semua kaum yang bermukim di Mekkah dan Madinah. Peristiwa yang cukup fenomenal, ketika beliau tinggal di Madinah. Saat itu, bersama dengan sahabt-sahabatnya, berhasil menciptakan undang-undang untuk mengatur kehidupan masyarakat yang multi etnis dan suku. “Piagam Madinah”, menurut beberapa ahli sosiologi, lahir prematur. Lahir yang mendahului jaman. Tatanan masyarakat modern, yang menjunjung tinggi setiap insan.

Kepemimpinan profetik yang dicontohkan oleh Rasulullah, telah banyak diadopsi oleh masyarakat sesudahnya, dalam bentuk pemerintahan, kelembagaan, komunitas atau wacana dalam bentuk pengetahuan. Empat sifat yang menjadi dasar tak lain adalah siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Empat tiang inilah sebagai tonggak peradaban yang unggul.

Kejujuran atau kebenaran harus ditegakkan, bukan hanya sebatas pimpinan. Memiliki sifat dapat dipercaya sebagai modal utama seorang pemimpin. Memberi informasi yang benar dan tidak pernah menyembunyikan perintah Allah. Pandai dalam melakukan dakwah kepada orang lain.

Sebagai umat Muhammad saw, yang berjarak lima belas abad, tak lain dan tak bukan hanya “sami’na wa atho’na”. Sebagai manusia yang diberi akal, harus mampu memilah dan memilih sumber asli dari Beliau. Meneladani sifat Beliau sebagai seorang pemimpin Agama dan Negara.