Kerangka dasar Juz Kedua

Jum’at Berkah

Juz kedua, masih didalam surat al Baqarah ayat 142 – 252. Pada pangkal surat, masih membicarakan keutamaan pembentukan Masyarakat Muslim. Sebab masyarakat yang demikian itu memang telah ditentukan oleh Allah. Ingat, janji Allah akan mengangkat manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

Secara garis besar, juz kedua ini terbagi menjadi 3 bagian peristiwa. Pertama, kisah penyembelihan lembu oleh Bani Israil. Dalam al Qur’an telah dituturkan untuk tidak meniru sikap hidup yang buruk dari Bani Israil. Perangai buruk sangat dicela.

Suatu hari, ada seorang kaya yang mati terbunuh. Secara kebetulan, janazahnya diletakkan di depan salah satu rumah Bani Israil. Karena dikalangan mereka timbul saling curiga, maka mereka berinisiatif datang ke Nabi Musa untuk minta tolong, menemukan siapa sebenarnya pembunuhnya.

Jawaban Allah, sesuai dengan doa Nabi Musa, agar Bani Israil menyembelih sapi betina yang tidak tua ataupun tidak muda dan berwarna kuning. Ternyata perintah ini, oleh Bani Israil dibuat rumit. Mereka banyak sekali pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi Musa. Mereka terlalu mempersulit diri. Perilaku yang demikian tidak patut untuk dijadikan contoh.

Kedua, Peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Dalam sejarah, Ka’bah bukan kiblat yang pertama dalam menjalankan sholat. Sebelumnya, arah kiblat umat Islam adalah ke Masjidil Aqsa atau Baitul Maqdis di Yerusalem. Nabi Muhammad sendiri merasa galau. Karena Baitul Maqdis itu kiblatnya Bani Israil. Maka Nabi menyampaikan permohonan lewat Malaikat Jibril. “Wahai Jibril, Aku lebih senang jika Allah memalingkanku dari kiblat orang Yahudi”.

Allah mengabulkan permintaan Nabi Muhammad saw. Mengapa Rasulullah tidak tidak suka berkiblat ke Baitul Maqdis, karena: Ka’bah merupakan kiblat bagi Nabi Ibrahim. Sebab lain, Bila arah kiblatnya Ka’bah, hal ini dapat menyentuh orang Arab. Sehingga mereka mau masuk Islam.

Ketiga, Hukum Haji, ekonomi dan Janazah. Sudah diketahui bahwa pada waktu hijrahnya Rasulullah ke Madinah, yang dilakukan oleh beliau memberi injeksi aqidah, mempertebal ketauhid. Asupan aqidah akan berpengaruh terhadap keimanan dan perilaku seseorang.

Apabila pondasi Aqidahnya kokoh, langkah berikutnya menata kehidupan bermasyarakat. Pengelolaan ini sangat penting, agar hidupnya penuh perdamaian, kesejahteraan dan keamanan terjamin. Kewajiban dan hak kepada orang lain juga seimbang.

Selain penanganan sosial, pengendalian ekonomipun perlu diatur, agar terhindar dari cara-cara yang menyebabkan orang lain terjerat. Memutus mata rantai perbedaan pendapatan si kaya dan si miskin agar tidak terlalu jauh.

Membimbing cara-cara berhaji yang benar. Rukun Islam yang kelima ini, bukan hanya sebagai pelengkap keimanan seseorang, namun lebih mencerminkan kesetaraan, dan siap sewaktu-waktu menghadap sang khalik.

Sumber bacaan:

Tafsir al Azhar karya Pro. DR. Buya Hamka

Sinopsis al Qur’an dalam bentuk pdf