Kereta Premium

Sudah puluhan tahun, saya tidak naik Kereta Api eksekutif. Hari ini saya memanfaatkan moda transportasi darat kereta api. Saya tidak ingat persis tahun berapa saya menunggang kereta eksekutif. Mungkin sekitar tahun 1992 an. Saya tahu karena ditugasi oleh Departemen Agama untuk mengikuti pelatihan mubaligh tingkat nasional. 

Tapi ada dua yang saya ingat betul. Pertama, Fajar Utama termasuk baru. Berselang berapa bulan dari peresmiannya. Waktu itu harga tiketnya Rp.125.000,00 untuk sekali jalan Yogyakarta ke Stasiun gambir (Jakarta). Sekarang untuk menikmati kereta eksekutif harus mengeluarkan dompet minimal Rp.350.000. Kedua, saat itu saya satu gerbong bersama pak alm. Adabi Darban. Pakar sejarah, khususnya sejarah Muhammadiyah.

Ada alasan saya harus naik kereta api hari ini. Sebenarnya saya ikut rombongan SMP Muhammadiyah se Kota Yogyakarta yang sedang melakukan studi tiru di Internasional Islamic Boarding School (IIBS) yang ada di kawasan Rasuna Said. Sekolah kedua yang kami kunjungi adalah SMP Muhammadiyah 8 Jakarta di bilangan Kebayoran Lama. 

Acara tersebut telah saya ikuti tuntas dari sesi pertama hingga kedua. 

Di Hari yang kedua, kegiatan hanya bersifat refreshing. Berkunjung ke kota lama dan mencoba naik MRT. Sebetulnya untuk kunjungan kedua tempat tersebut pernah saya lakukan. Sehingga bagi saya tidak terlalu penting. Agenda yang penting justru harus pulang. Karena putri saya sendirian di rumah.  

Tapi ada dua yang saya ingat betul. Pertama, naik kereta api Fajar Utama termasuk baru. Berselang berapa bulan dari peresmiannya. Harga tiketnya Rp.125.000,00 untuk sekali jalan dari Yogyakarta ke Stasiun gambir (Jakarta). Kedua, waktu itu saya satu gerbong bersama pak alm. Adabi Darban. Pakar sejarah, khususnya sejarah Muhammadiyah.

Jawatan kereta api saat itu belum ada manajemen baru yang diprakarsai oleh pak Jonan. Boleh dikatakan masih pola lama, klasik, dan terkesan apa adanya.

Begitu pintu gerbong di buka, kesan pertama yang saya rasakan adalah mewah, AC dingin dan private. Kursi tertata rapi, meski belum ada selimut yang menyertainya. Tempat duduk belum penuh. Masih tampak sisa kursi yang kosong. Tiket yang saya pegang, juga masih cetakan lama. Beberapa bagian masih ditulis tangan. 

Tiket boleh dipesan beberapa hari sebelumnya di stasiun keberangkatan. Tidak seperti sekarang. Tiket dapat dipesan dari mana saja, waktu boleh ditentukan kapan saja, bahkan tempat duduk pun dapat dilihat pada saat memesan tiket. Boleh dikatakan, saat ini serba Teknologi Informasi. 

Meskipun saya hanya memeroleh kereta pengganti yang berkelas premium, namun kondisi tetap nyaman. Saya menikmati perjalanan, karena fasilitas penumpang semuanya dipenuhi oleh pihak manajemen. Colokan listrik untuk mengisi energi gadget dan laptop tersedia di disamping. Toilet bersih. 

Di stasiun Gambir, saya mencetak tiket yang sebelumnya saya pesan lewat gadget, demikian mudah. Saya melakukan tidak perlu banyak tanya petugas. Semua informasi dalam genggaman.