Kerja Sama dan Persaingan

Setiap orang pasti punya komunitas atau kelompok. Minimal kelompok bermasyarakat. Atau yang lebih sederhana adalah kelompok berkeluarga. Ayah, Ibu dan anak. Didalamnya terdiri dari beberapa orang. Paling sedikit dua orang. Mereka membentuk komunitas dengan tujuan tertentu. Bias karena ikatan keluarga, sosial, profesi atau bahkan hoby.

Komunitas itu berada di suatu tempat dan pada suatu waktu. Pasti mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Entah perkembangan positip atau negatip. Sebagai contoh komunitas kendaraan bermotor. Kalau niatanya untuk hura-hura, saya pastikan bahwa kelompok itu tak akan berumur panjang. Namun, bila memiliki tujuan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi, Insya Allah akan berkembang dan langgeng.

Setiap kelompok atau komunitas pasti mengalami perubahan. Untuk meniliti gejala tersebut, perlu ditelaah lebih lanjut perihal dinamika kelompok sosial tersebut. Beberapa kelompok sosial sifatnya lebih stabil daripada kelompok-kelompok sosial lainnya, atau dengan kata lain, strukturnya tidak mengalami perubahan-perubahan yang mencolok. Ini terjadi karena kerjasama dalam kelompok sangat baik.

Adapun kelompok-kelompok sosial yang mengalami perubahan-perubahan cepat, karena konflik antar individu dan kelompok sebagai akibat tidak adanya keseimbangan antara kekuatan di dalam kelompok itu sendiri. Ada bagian atau golongan dalam kelompok itu yang ingin merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan lainnya. Ada kepentingan yang tidak seimbang sehingga timbul ketidak adilan.

Kerja sama dan persaingan selalu ada dalam setiap komunitas. Manakala kerjasama yang dominan, maka komunitas akan mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tapi kalau yang dominan adalah persaingan yang tidak sehat, maka kelompok itu akan mengalami kegagalan.

Kerjasama Merupakan suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerjasama merupakan kebutuhan vital dalam sebuah organisasi untuk merealisasikan tugas-tugas yang telah diprogramkan. Adapun persingan merupakan teori matematical yang berkaitan dengan sistem persaingan. Pesaing (competitor), wujudnya bisa orang, kelompok, perusahaan, atau komunitas.

Dua buah kalimat berikut ini mempertegas arti dari kerja sama dan persaingan. Lebih banyak tindakan yang dipandang positif (menyenangkan) oleh anggota-anggota lain dalam kelompok kerja sama daripada dalam kelompok persaingan. Lebih banyak tindakan yang dipandang negatif (tidak menye­nangkan) oleh anggota-anggota lain dalam kelompok persa­ingan daripada dalam kelompok kerja sama.

Perbedaan antara kerja sama dan persaingan ter­letak pada sifat wilayah-wilayah tujuan pada kedua situasi tersebut. Dalam situasi kerja sama, wilayah yang menjadi tujuan dari seorang anggota kelompok jika anggota dari kelompok itu bias memasuki wilayah kelompok itu. Dalam arti kata, memiliki tujuan yang sama, atau saling menunjang.

Dalam persaingan, kalau seorang dari kelompok sudah memasuki wilayah tujuan, maka kelompok yang lain tidak bisa memasuki wilayah tertentu. Hubungan antara wilayah-wilayah tujuan ang­gota-anggota kelompok dinamakan saling menghambat.

Banyak faktor yang mempengaruhi kerjasama antara lain kultur, pekerjaan, hobi. Kultur, sering terjadi pada organisasi yang berbasis masyarakat. Ikatan emosional juga sering terjadi di perusahaan-perusahaan berbasis keluarga. Dalam Islam, kerja sama dilandasi atas dasar seiman.

Islam penuh dengan nilai spiritual yang mendorong untuk kerja sama baik vertical maupun horizontal. Secara vertical, Islam menolak kelas sosial, perasaan sombong atau superioritas. Secara horizontal, Islam menolak rasa kedengkian, kecemburuan. Tidak penting warna kulit, golongan, ataupun kelas social. Islam mengedepankan persudaraan universal sebagai landasan yang kukuh untuk mengembangkan kerja sama.

Al-Qur’an menyebutkan “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara”. Dalam sebuah hadits juga disebutkan :”Seorang mukmin bagi seorang mukmin yang lainnya adalah bagaikan satu bangunan yang menguatkan satu sama lain”.

Inilah yang menjadi landasan spiritual kerja sama antar manusia. Cinta, simpati dan kasih sayang, atau prihatin dengan penderitaan orang lain, ikut bergembira dalam kegembiraan orang lain adalah nilai-nilai yang sanggup melahirkan kerja sama dan kesetiakawanan yang kukuh.

Tidak mungkin kerja sama bisa terwujud tanpa ada sinergi dengan manusia yang lain. Kelemahan individual justru mengharuskan tolong-mrnolong. Ini adalah dasar yang hakiki dari setiap kerja sama, apapun bentuk dan kepentingannya.

Persaingan yang sehat, menurut Islam, adalah pola perilaku yang dikembangkan dalam setiap komunitas. Fungsinya jelas, yaitu mendorong inovasi, meningkatkan efisiensi, atau menguatkan team work. Dengan persaingan, organisasi dipacu untuk semakin lebih baik, dan dan bahkan menjadi yang terbaik.

Dasarnya sangat kuat. Allah menyuruh manusia : … maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Persingan adalah bagian yang melekat dalam tujuan penciptaan manusia, dengan fungsi sebagai sarana untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam usaha dan pekerjaan. Surat Al Mulk 67 : 1 – 2, menyebutkan : Mahasuci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan nhidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Dalam persaingan terjadi proses seleksi secara alamiah yang menentukan siapa yang paling berprestasi. Dalam sebuah organisasi, hikmah persaingan adalah peluangnya untuk menyingkap faktor-faktor yang menyebabkan kelemahan dan ketertinggalannya dalam percaturan di masyarakat.

Pertumbuhan, kemajuan dan kekuatan organisasi lahir dari persaingan. Senantiasa untuk meraih prestasi yang semakin baik adalah ciri dari perilaku kompetitif. Lembaga perlu menterjemahkan ke dalam target-target baik individual maupun kelompok. Hasil hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini.

Mengurangi atau bahkan menghilangkan kemubadziran atau kerugian, meningkatkan manfaat kehidupan, adalah perilaku yang berorientasi pada prestasi. Hasilnya adalah peningkatan kualitas hidup yang berkelanjutan.

Dengan demikian setiap individua atau kelompok dalam setiap unit organisasi senantiasa harus mempertanyakan diri, apa nilai tambah yang telah mereka ciptakan setiap hari?

Buku bacaan: Spiritual Manajemen karya Sanerya Hendrawan, Ph. D