Kesederhanaan Hidup

Jum’at Berkah

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang)

(HR. Tirmidzi)

Makan secukupnya, berpakianlah yang bersih dan rapi, tak perlu mahal. Tinggallah di rumah yang sehat, sirkulasi udara lancar, lingkungan mendukung, kebersihan terjamin. Tidak perlu rumah mewah. Itu semua masuk katagori sederhana. Cuma nafsu saja yang meminta lebih dari itu.

Segenap manusia sama, satu dengan yang lain tak ada bedanya. Hanya kemauan yang membedakan. Kalau diperturutkan kehendak nafsu, maka sesungguhnya tidak berujung, tidak terbatas. Nafsu selalu meminta yang lebih. Padahal jika kita terima apa adanya, sabar dan mampu menahan hati, maka keinginan dapat dikendalikan.

Hidup manusia berada di tengah-tengah. Perbatasan antara peringai malaikat dan perilaku hewan. Manusia ditempatkan oleh sang khaliq, agar tidak condong meniru malaikat. Juga tidak miring mendekati nafsu hewani. Sebab kalau manusia meniru kehidupan malaikat, maka sesungguhnya, mereka mampu seperti malaikat. Bahkan melebihi dari malaikat. Sebaliknya, bila berperilaku serakah, maka kehianaannya melebihi hewan.

Binatang apabila telah kenyang perutnya, ia akan tidur terus dan istirahat. Tetapi manusia walaupun telah kaya, nafsu untuk memiliki akan terus bertambah. Hatinya tidak senang dengan hasil yang diperoleh kemarin. Bertambah tamak dan loba. Hatinya tidak ingin cerai dari hartanya.  

Lihatlah orang yang telah ketagihan candu meski badannya telah kurus dan darahnya musnah, dia pun tahu keadaan dirinya sendiri. Namun apakah lantas berhenti? Habis makan daging ayam, diteruskan makan daging kambing. Dapat daging kambing hendak memesan yang lebih mahal. Padahal semua makanan, setelah lepas dari kerongkongan keadaannya sama. Warna dan baunya sama.

Orang yang hidup sederhana dalam rumah tangganya tidaklah akan ditumbuhi rasa hasad, dengki melihat kelebihan orang lain Sebab kekayaan dan kecukupan itu pada hakekatnya bukan pada harta, tetapi pada hati. Kebahagiaan itu tidaklah pada kebanyakan harta tetapi pada rasa tentram dan ridho. Bila Tuhan memberinya rizki diucapkan syukur dan tidak bila tidak diberi, dia pun akan sabar. Jika telah terperosok kedalam kefanaan, lekas-lekas lah lari keluar sebelum ditimpa penyakit yang lebih parah.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *