Ketika Hasrat Ingin Mengkafirkan Orang Lain

Berkah Jum’at

Perkembangan Tekonologi Informati (TI) memang luar biasa. Ia dapat memutar balikkan kebiasaan dunia. Merunyamkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dianggap nyaman.  Menjungkir balikkan fakta. Semula hanya impian. Sekarang menjadi kenyataan.

Dibalik perkembangan TI yang mencengangkan, ada satu sisi yang mengintai, yaitu informasi yang bebas nilai. Kebebasan untuk membagikan informasi yang demikian mudah, tanpa dasar-dasar yang kuat, menjadikan pembaca cukup terbius. Apalagi si penerima informasi tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup. Jadilah sebuah sajian yang tadinya bergizi, menjadi racun.

Salah satu racun yang cukup membuai adalah ajakan untuk berbuat frontal. Melawan kemapanan hanya dengan satu alternatif. Bila tidak diikuti, mereka tak segan menjuluki kafir. Sebutan yang cukup telak. Karena status kafir berarti telah keluar dari agama. Bila kafir berarti tidak seiman. Berarti pula, darahnya halal.

Aliran seperti ini mesti kita hindari. Anak muda, sangat rentan terhadap godaan seperti ini. Logika yang mereka bangun memang sangat menarik. Alasan yang mereka kemukakan sangat logis. Tapi mereka lupa, bahwa agama dibangun bukan hanya dari nalar, melainkan keimanan. Andai anak kita mengendus sikap yang demikian, utamanya menafikan atau menjelekkan agamanya non muslim, segeralah diajak berdialog.

Sesekali dapat pula anak melontarkan kata-kata “Pak, ini buatan China, berarti kafir. Tidak boleh digunakan.” Atau dapat pula “Bu, guru saya di sekolah beragrama Kristen. Saya enggak mau mengikuti.” Inilah contoh, bila anak kita sudah terpapar ajaran terorisme. Gelagat seperti ini mengkhawatirkan pihak keluarga atau masyarakat. Anak telah membuat blok dalam pikirannya. Cuma dua pilihan, kawan atau lawan.

Bila mendapati anak seperti ini, segera untuk berbenah. Ajak anak untuk diskusi, sebelum pikiran anak membatu. Melepas simpul-simpul tali kekerabatan anak dengan mereka yang dianggap meracuni pikirannya. Sibukkan anak dengan kegiatan-kegiatan sosial. Suatu saat, jadikan anak menjadi kepala rumah tangga, yang mengatur kegiatan keluarga. Memberikan porsi yang besar dalam menata rumah. Intinya, menjadikan anak berperan, seakan menjadi orang penting.