Kidung Senja di Argopeni (1)

Roda kayu dengan enam belas jari-jari terus melaju, menggelinding mengikuti hentakan kaki kuda, mengantarkan penumpang dengan satu tujuan pasar Wonosobo. Tidak pernah bosan sang roda berputar menemani jalan yang bergelombang. Naik turun adalah tekstur tanah dari Kalibeber menuju Wonosobo.

Orang Kalibeber kalau menyebut pasar berarti Wonosobo, meskipun kalau ke Wonosobo belum tentu ke pasar. Mereka memiliki tujuan yang berbeda. Ada yang bekerja, belanja bahan bangunan, bekerja di kantor, beli baju baru, atau kebutuhan lainnya, perjalanan akan berakhir di Wonosobo. Sampai sekarang, kalau ke pasar Kalibeber menyebutnya warung. Padahal warung itu sejatinya toko kecil yang memperdagangkan bermacam-macam kebutuhan. Tapi itulah ilmu turunan (bukan kalkulus, dan bukan gen), dari nenek moyang hingga sekarang.

Roda dokar yang dibalut dengan ban bekas, tak pernah lelah melindas dan menapaki jalan yang sama. Tali pengendali kuda, dimainkan seorang sais yang telah piawai. Kuda dan sais harus menyatu. Kata kekinian menyebutnya chamistri. Untaian tali pengendali di tangan sais yang professional, akan membuat penumpang terkantuk-kantuk. Laju dokar menjadi nyaman, serasa sebuah perahu menerjang riak gelombang air di laut. Hentakan ritmis roda manakala menemui lubang, tidak akan mengganggu kenikmatan penumpang sampai tujuan akhir.

Delman istimewa khas Wonosobo, lebih indah disbanding dengan daerah lain. Hanya kalah dengan kereta angin khas Yogyakarta atau Solo. Dokar yang saya naiki hampir setiap hari, kala masih duduk di kelas tiga SD, pasti melewati kampung Argopeni. Kalau dari arah Ketinggring, posisi jalan mendatar, dan agak melandai saat melintas Argopeni.

Sebelum Argopeni, saya menikmati gundukan tanah di sisi kiri. Orang menyebut “gunung beras”. Masih ingat dalam tubir telingaku, orang tua bercerita, konon kabarnya, bila gunung beras gugur atau longsor, maka harga beras akan turun. Walaupun itu cuma dongangan, saya percaya saja. Akal dan nalar belum dapat bekerja. Apa yang didongengkan orang tua diterima. Apalagi jaman masih tahun 70-an, cerita mistis masih merajalela. Termasuk kuburan yang di utara Argopeni.

Di ujung, sesaat sebelum belok kanan menuju jalan raya Dieng, berdiri sebuah gedung setengah renta, SMP Muhammadiyah Wonosobo. Masih ingat dalam memoriku, anak-anak seusia SMP berlarian, dan selalu ramai. Saya belum membayangkan, bagaimana merasakan sekolah tingkat SMP. Saya juga tidak tahu, tahun berapa SMP Muhammadiyah Wonosobo berdiri. Namun kalau dilihat dari raganya, gedung tersebut sudah lama berdiri. Waktu itu, gedung disebelah utara belum ada. Dan sekolah tersebut, telah mengajarkanku tentang kehidupan. Manusia juga tidak tahu, termasuk saya, bahwa disitulah saya merasakan kidung senja meskipun hanya setahun.

Kalau ada anak sekolah telah lulus, mestinya bahagia. Ia bersama rekan sejawat akan merayakan jerih payahnya selama tiga tahun melakukan belajar plus dengan segala kenangannya. Senang, gembira, sedih, sakit adalah adonan yang telah terpatri dalam kalbu. Hanya otak yang mampu menuangkan kembali jejak-jejak langkah yang telah berlalu. Ada yang benderang, kadang ditemui remang-remang, atau bahkan hilang sama sekali. Itulah kemampuan otak untuk membuka tabir lembar-lembar kenangan.

Saya mungkin salah satu siswa yang kurang bahagia. Pasalnya ada bayang kelabu saat harus mendaftarkan diri di sekolah idaman. SMA Negeri 1 Wonosobo. Idaman semua lulusan SMP, juga idaman orangtua. Mereka turut berbangga manakala putra-putrinya menjadi salah satu civitas akademika di SMA Negeri 1 Wonosobo. Saya tahu benar kemampuan akademik, saya tahu benar berapa jumlah kursi yang tersedia bila dibandingkan dengan jumlah peminat. Jadi memang harapannya tipis. Namun tetap saja lagu Maju Tak Gentar harus didengungkan, dan harus dilatahkan dengan tindakan. Walaupun suara agak parau, sebagaimana teman yang lain juga, tetap mengikuti seleksi sebagai ikhtiar.

Hari yang ditunggupun tiba. Pengumuman seleksi masuk di SMA Negeri 1 Wonosobo. Sudah diduga bahwa nomorku tak tertera, meskipun sudah diulang 3 kali lebih, sambil berharap keajaiban, dan melafalkan doa serta mantra ghaib. Sikap akhir hanya pasrah, sambil mencari sekolah lain. Sebenarnya, saya telah diwanti-wanti oleh Bapak untuk masuk SPG. Tapi saat itu keegoisanku sedang mendera dan memuncak. Hanya anak yang benar-benar patuh dengan kedua orangtua, dan turut berbakti kepadanya, mau masuk SPG atau SMEA. Kemurkaan hati yang dituntut oleh gengsilah, yang pada akhirnya akan menjumpai kekecewa. Semangat kelelakiankulah yang mengubur cita-cita mulya, yang tidak ingin menjadi guru. Namun akhirnya takdirlah yang menang. Takdirlah yang menggenggam asaku untuk menjadi guru.

SMA Muhammadiyah Wonosobo, saat itu termasuk sekolah sore. Dimulai dari jam satu siang hingga menjelang maghrib. Saya termasuk gelombang pertama. Ada duapuluh satu anak yang mendaftar. Siapa saja mereka, saya lupa. Hanya satu yang kuingat Lukman Hakim atau Awik. Tentu semuanya diterima. Dan ini yang agak kemaruk, dari dua puluh satu anak itu, nilai test saya yang paling bagus. Rangking pertama. Itu tak pernah terlupakan.

Saya belum pernah membayangkan dan persiapan, kalau sekolahnya masuk siang. Wajarlah… hati masih diselimuti frustasi. Jarak antara pengumuman dengan hari pertama masuk masih lama. Saya masih dapat bermain-main dengan teman di kampung. Karena teman-teman sekampungpun masih didera dengan penyesalan. Sehingga ada waktu agak longgar untuk bercengkerama.

Pemanggilan kembalipun tiba. Hari pertama masuk, saya kebagian di kelas 1B bareng Tumin. Di hari pertama pula, dilaksanakan pemilihan pengurus kelas. Saya didapuk menjadi bendahara, Tumin menjadi ketua kelasnya. Sekretarisnya saya lupa. Pemilihan ini sangat demokratis, dan tepat sasaran. Mengapa demikian? Karena rata-rata siswa satu dengan lainnya sudah saling mengenal. Baik dari sekolah asal, maupun dari kampung asal. Dari kalibeber tercatat saya, Jazim, Wiwik, Tumin, Marfu’ah, Muslimin, Awik, Sabar, itu yang kuingat.

Di hari yang kedua, kelas 1 mendapat beberapa materi yang dibimbing oleh kakak kelas. Istilah kasarnya plonco. Memakai baju putih, celana putih dan membawa accesori. Tahun delapan puluhan, sifat perploncoannya, agak jauh dari mendidik. Kebanyakan fisik dan rada dibentak-bentak. Itu semua saya lalui Bersama teman-teman dengan mulus. Karena pembimbingnya adalah kakak kelas, yang sudah terbiasa ngobrol bersama.

Kelas 1A dan 1B menempati sebuah kelas tanpa tembok. Tempatnya berada di utara membujur dari barat ke timur. Cukup nyaman, kalau hanya untuk belajar. Bagian atas dibiarkan terbuka, membuat angin leluasa masuk, dan seisi ruangan menjadi agak dingin. Papan tulis warna hitam, dengan kapur tulis warna putih. Pagi hingga siang diisi siswa SMP Muhammadiyah Wonosobo.

Teman-teman di kelas satu ngefrend, humble, merasa senasib seperjuangan, siapa saja mereka? ikuti episode berikutnya (bersambung)