Komitmen dengan Profesi Guru

Guru, sampai saat ini masih menjadi profesi yang diminati. Terbukti di perguruan tinggi, jurusan Ilmu Pendidikan, pendaftarnya melebihi dari kuota yang tersedia. Meskipun bukan favorit, Ilmu Pendidikan masih menjadi pilihan bagi calon mahasiswa. Harus diakui bahwa semenjak ada sertifikasi bagi guru, lonjakan minat terhadap profesi guru meningkat tajam. Demikian pula, bagi guru yang telah mengabdi di lembaga pendidikan, aura komitmen guru terhadap profesinya menjadi sangat kuat.

Komitmen profesi guru secara regulasi telah diatur dalam Peraturan Menteri No. 16 tahun 2007 pasal 14 ayat 1. Disebutkan bahwa “Etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi” mengindikasikan bahwa pemerintah tidak akan pernah main-main dengan profesi guru. Karena dari guru inilah nasib bangsa digantungkan. Sebaliknya, guru merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keahliannya demi menjunjung martabat bangsa. Sehingga guru harus bangga dan percaya diri. Tertulis di pasal 14 ayat 2.

Dari regulasi di atas, maka seorang guru harus terlibat sepenuhnya terhadap kelembagaan yang ia miliki, terutama di lembaga pendidikan yang sedang ia emban. Ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan guru yang lain. Ia juga menjadi bagian dari unsur masyarakat yang komitmen terhadap pendidikan. Bila memiliki kemauan dan kemampuan, maka ia pun bisa masuk dalam organisasi profesi.

Dalam upaya menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap profesinya, boleh merujuk perihal komitmet menurut Porter. Beliau mengemukakan ada 3 (tiga) sebagai tanda untuk mengukur komitemen seseorang terhadap pekerjaannya. Pertama penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. Kedua Kesiapan dan kesediaan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama organisasi. Ketiga Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi (menjadi bagian dari organisasi.

Bila orang tersebut terlibat dalam organisasi, berarti sudah dapat menunjukkan sebagian kecil komitmen terhadap profesinya. Menurut Richard M. Teers komitmen diartikan rasa memiliki terhadap organisasi. Tanda-tanda rasa memiliki meliputi 3 hal yaitu: percaya, keterlibatan dan loyalitas terhadap organisai.

Seorang guru harus percaya bahwa pekerjaan yang sedang ia geluti merupakan amanah yang akan mengalirkan pahala yang tak pernah putus. Dalam khasanah keilmuan disebutkan: sampaikanlah meskipun hanya satu ayat. Jargon yang sangat mulia ini sangat ampuh untuk menebarkan kebaikan. Pendidikan (baik formal maupun tidak formal) pasti tidak akan musnah selama kalimat sakral ini dilaksanakan secara terus menerus.