Kurikulum Merdeka Berdiri Di atas Dua Kaki

Perubahan adalah fitrah. Sesuatu yang pasti terjadi. Dalam kehidupan selalu ada yang namanya perubahan, tidak pernah tetap, dan terus bergerak, seperti pergerakan benda langit. Tidak akan pernah berhenti meski hanya sedetik. Semua berjalan sesuai dengan alur dan tempo yang telah ditetapkan.

Semua mengalami perubahan, termasuk dalam dunia pendidikan. Indonesia telah mengalami perubahan kurikulum sebanyak sepuluh kali, dan sebelas kali bila kurikulum merdeka diterapkan. Tahun 1947 dimulai perjalanan kurikulum, yang semula berkiblat pada Pendidikan Kolonial Belanda, berbaur dengan konsep Jepang. Fokus pendidikannya adalah pembentukan karakter yang merdeka, sejajar dengan bangsa lain.

Kurikulum ini terus bergerak mengikuti mode jaman. Mulai dari kemerdekaan, terus bergulir ke tahun enampuluhan, berja;lan terus, sampai akhirnya pemerintah menitahkan supaya menggunakan kurikulum 2013 yang sering disebut kurtilas. Pada kurtilas, titik beratnya pada siswa. Bagaimana seorang peserta didik menguasai kompetensi tertentu. Assesmennya mengukur aspek pengetahuan, ketrampilan, sosial dan spiritual. Model inipun akan segera gulung tikar diganti dengan Kurikulum Merdeka.

Kebijakan pada kurikulum merdeka ditujukan agar anak didik memperoleh perilaku merdeka belajar. Tujuannya adalah mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Ada dua dimensi yang akan diraih dengan kurikulum merdeka. Pertama dimensi kualitas, yaitu supaya semua peserta didik, mendapatkan pengalaman belajar yang membuat mereka bisa memiliki karakter dan kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi masa depan.

Kedua dimensi keadilan. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) ingin memastikan bahwa kesempatan mendapatkan Pendidikan berkualitas dapat diberikan secara adil kepada semua anak, terlepas dari latar belakang  sosial, ekonomi, budaya, ataupun di mana mereka tinggal.

Nada optimis terus bergaung. Lorong terang terus dipancarkan agar kurikulum merdeka tampak cerah. Keberhasilan pendidikan memang tidak hanya ditentukan kurikulum. Tapi bagaimana perubahan itu bisa membuat visi sekolah dan guru, kepala sekolah hingga pemerintah daerah benar-benar seperti yang diharapkan.

Kalau ditelusuri lebih mendalam, kurikulum merdeka tidak berbeda jauh dengan kurtilas. Ada istilah-istilah baru, tapi tidak boleh ditakuti atau dihindari. Istilah tersebut sebenarnya merangkum dari istilah yang sudah ada. Misalnya Capaian Pembelajaran (CP) pengganti dari kompetensi inti (KI). Modul Ajar (MA) menggantikan RPP.

Mengapa kurikulum merdeka seperti hendak memaksa untuk diterapkan. Ada tiga alasan, Pertama lebih sederhana dan mendalam. Fokus pada materi essensial dan pengembangan kompetensi. Belajar lebih mendalam, bermakna dan tidak buru-buru. Kedua lebih merdeka karena untuk jenjang SMA tidak ada peminatan. Guru mengajar sesuai tahapan dan perkembangan anak. Sekolah memiliki kewenangan mengembangkan dan mengelola kurikulum. Ketiga lebih relevan dan interaktif. Pembelajaran melalui proyek memberikan kesempatan lebih luas kepada anak didik untuk aktif mengeksplorasi isu-isu aktual.