Enam bulan setelah covid-19 menyerbu insan di dunia ini, fenomena di Yogyakarta khususnya, ditandai dengan kelangkaan sepeda angin. Tiba-tiba, orang menyerbu toko-toko sepeda, atau bengkel-bengkel sepeda. Rindu berat bersepeda, setelah terkungkung di rumah, didera rasa kebosanan. Apalagi harus melewati bulan Ramadhan dan Idul fitri 1442 H, dimana orang telah terbiasa berinteraksi secara tatap muka secara masal.

Setelah hanya dua bulan, tiba-tiba sepeda dengan mudahnya didapatkan di toko sepeda. Bengkel-bengkel kembali sepi seperti semula. Sekali lagi kebosanan bersepeda muncul lagi. Orang lebih suka beraktivitas di rumah. Sasarannya apa lagi kalau bukan tanaman hias. Tiba-tiba, harga tanaman hias membumbung tinggi lagi, dengan janda bolongnya sebagai primadona. Teras rumah menjadi semakin rimbun, diselimuti oleh warna hijau.

Bersepeda, bertaman hias, adalah kegiatan sampingan bagi orang yang latah. Ikut-ikutan. Meniru orang lain. Dalam bahas apsikologi dikenal dengan nama Herd Mentality. Perilaku berkerumun yang sering kita jumpai sudah jamak dilakukan oleh orang suka ikut-ikutan, tanpa mengetahui persis persoalan intinya. Meramaikan bersepeda atau ikut berpartisipasi dengan bertanam pohon hias tanpa panggilan jiwa, adalah salah satu contoh perilaku Herd Behavior (perilaku kerumunan).

Sudah menjadi kebiasaan, bila beberapa guru lebih suka memberikan soal dalam bentuk pilihan ganda. Selain mudah cara mengoreksi, soalnyapun hanya copas. Mungkin soal-soal tahun lalu, mungkin mendapatkannya dari teman, atau sekedar browshing di internet. Drs. Edy Hery Suasana, M. Pd, sewaktu menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, tidak bosan-bosannya mengingatkan agar guru memberikan ruang kepada siswa untuk berpendapat. Angka delapan, bukan hanya empat ditambah empat. Delapan dapat diperoleh dari tujuh ditambah satu, atau sepuluh kurangi dua, ataupun enampuluh empat dibagi delapan.

Di beberapa pelatihan, pemelajaran di kelas seyogyanya memiliki proses yang berbeda-beda sesuai dengan karakter anak. Hindari perilaku meniru orang lain, bila fakta berbicara. Mengurangi kebiasaan memberikan evaluasi yang jawabannya tunggal. Berikan ruang kepada anak untuk menyampaikan argument.

Herd Mentality atau Herd Behavior dapat dipupuk bila memiliki tujuan baik, misalnya menanam kebiasaan disiplin mengerjakan tugas tepat waktu karena orang lain melakukan hal yang sama. Meniru orang lain dalam hal efisiensi penggunaan listrik, karena teman-temannya melakukan hal yang sama, sesaat setelah menggunakan ruang kelas. 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *