Laut sebagai Identitas Bangsa

Secara demografi, saya dilahirkan di daerah pegunungan. Tepatnya gunung Petarangan, disitulah Dieng berada. Jalan berkelok dan bergelombang adalah permadani kami. Setiap hari yang terlihat hanyalah hamparan hijau menggelar menutupi lekukan bumi. Sayur, buah-buahan adalah makanan kami sehari-hari. Sangat jarang kami menikmati ikan laut. Kalaupun kami dapat, hanya diperoleh ikan asin yang sering kami sebut rese. Makanan kelas dua, begitu masyarakat menyebutnya.
Di sekolah, kami hanya disodori gambar pantai, perahu, karang pantai, dan pohon kelapa. Sesekali menyanyikan lagu “Nenekku Seorang Pelaut”, tapi tidak pernah merasakan aroma lautan. Meski hanya sekedar merasakan hembusan angin, atau gulungan air di pantai, atau bermain-main kelembutan pasir. Itu semua hanya bayangan. Selama di Sekolah Dasar enam tahun hanya ilusi keindahan laut yang dikenang.
Meski demikian, pelajaran geografi di SMP cukup membantu memetakan tentang laut. Semakin jelas gambaran tentang kelautan. Saya berterima kasih kepada Bapak dan Ibu guru SMP yang telah membawa anak-anak menikmati secara nyata, dan merasakan air laut. Tumpahlah rasa penasaran yang terpendam sejak lahir, untuk melihat laut.
Indonesia adalah negara bahari. Negara yang terdiri dari kepulauan. Laut yang terhampar memiliki luas dua pertiganya dari luas Indonesia keseluruhan. Lebih tepatnya 3.257.483 km persegi. Tak salah kalau ada sebutan negara maritim. Namun pendayagunaan kelautan masih sedikit. Kekayaan yang terkandung di dalamnya masih menjadi ajang pencarian nafkah orang lain tanpa seijin yang punya. Laut tidak hanya ikan. Di dalamnya masih bermacam-macam sumber penghidupan. Airnya merupakan alat lalu lintas perekonomian yang vital.
Cinta tanah air, tidak hanya diwujudkan dalam bentuk daratan, namun kelautan harus disayangi dalam porsi yang sama. Oleh karenanya, informasi tentang kelautan lebih ditingkatkan lagi. Bidang pendidikan mengemban tugas untuk memberikan pemelajaran tentang kelautan. Menumbuhkan minat bahari Nusantara digiatkan lagi. Budaya bahari dinilai sangat erat hubungannya dengan dengan jati diri bangsa.
Sekerat sejarah dan pengalaman tentang tugas memelihara bahari, hendaknya menjadi wacana untuk lebih menghayati arti NKRI yang terdiri dari darat, laut dan udara. Istilah jangan lupa daratan harus dibarengi dengan jangan lupa lautan. Membelakangi lautan sama saja dengan membuang secara percuma potensi kekayaannya.
Tanpa adanya kecintaan yang kuat terhadap bangsa, tidak mungkin seorang pahlawan Admiral Madya Yoshapat Sudarso (Yos Sudarso) harus merelakan nyawa terkubur di laut Aru. Tanpa adanya kepemilikan yang mutlak terhadap tanah air, tidak mungkin Sriwijaya membangun kerajaan yang berbasis kelautan. Tanpa panggilan jiwa untuk memelihara NKRI, tidak mungkin kapal selam KRI Nanggala-402 berlabuh.
Bersamaan dengan terbukanya arus informasi yang deras, kita buka kembali wawasan tentang definisi kelautan. Mengacu pada penemuan-penemuan terbaru. Merekonstruksi ulang buku-buku yang telah terlanjur menempel dalam otak. Mind set tentang kelautan kita urai kembali, dengan panduan al-Qur’an dan ilmu modern, untuk memperkokoh identitas Bangsa.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *