Maiyyah (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Kedelapan

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

(at-Taubah: 40)

Ma’iyyah berasal dari kata ma’a yang artinya bersama. Maiyyatullah artinya kebersamaan Allah swt. Bagimana cara mengukur kedekatan dengan Allah. Dalam al Quran sering kita jumpai dalam kalimat terakhir. Misalnya, sesungguhnya Allah Bersama orang-orang yang sabar. Secara tidak langsung redaksi tersebut mengandung arti, bahwa kalau seseorang yang ingin bersama dengan Allah dengan cara bersabar. Keberuntungan bagi orang yang bersabar. Kebersamaan dengan Allah adalah idaman bagi setiap orang.

Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa orang yang bertaqwa, selalu bersama Allah. Ciri-ciri orang bertaqwa antara lain : percaya kepada hal-hal yang ghaib, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Di bagian lain juga disebutkan, bahwa orang-orang yang berbuat baik adalah orang yang selalu Bersama dengan Allah.

Nabi dan Rasulpun juga memberi tauladan untuk kita, bahwa kebersamaan dengan Allah dapat diujudkan melalui seorang Nabi yang dekat dengan sahabatnya. Sebagai contoh, antara Nabi Musa dan Nabi Harun.

Nabi Harun AS adalah saudara nabi Musa AS. Ia merupakan juru bicara adiknya dan menjadi teman yang setia dalam melaksanakan dakwah. Nabi Musa adalah orang yang tidak begitu trampil dalam berbicara. Tidak fasih menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sedangkan Nabi Harun adalah orang yang pandai berbicara. Retorikanya bagus dan cerdas. Banyak yang terpukau apabila Nabi Harus menyampaikan sesuatu. Oleh karena itu, Allah menurunkan Nabi Harun untuk menemani Nabi Musa dalam setiap kegiatan.

Suatu ketika Nabi Harun AS mendampingi Nabi Musa AS menemui Firaun untuk meminta melepaskan kaum Bani Israil dari perbudakan. Nabi Harun AS mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka kepada Firaun dengan lemah lembut. Perkataannya juga sangat jelas.Tidak heran bila dia sering disebut juru bicara Nabi Musa AS. Hingga akhirnya mereka berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir.

Demikian pula ketika Nabi Musa berada di lembah Sinai, untuk mendapatkan perintah dalam rangka menemui Allah swt. Beliau menugaskan kepada Nabi Harun untuk menjaga kaum Bani Israil. Anehnya, Bani Israil tidak mempercayai Nabi Harun. Situasi ini dimanfaatkan oleh Samiri yang berprofesi sebagai penyihir. (bersambung)

Sumber bacaan : Kuliah Aqidah Islam karya Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc.