Maiyyah (2)

Ramadhan 1443 H – Hari Kesembilan

Beliau menugaskan kepada Nabi Harun untuk menjaga kaum Bani Israil. Anehnya, Bani Israil tidak mempercayai Nabi Harun. Situasi ini dimanfaatkan oleh Samiri yang berprofesi sebagai penyihir. Ia mendatangi Bani Israil dengan membawa patung sapi emas yang terlihat nampak hidup, padahal karena ilmu sihir. Karena tipu daya Samiri, akhirnya Bani Israil kembali menyembah berhala.

Keteladanan yang dapat kita ambil hikmahnya adalah kesabaran Nabi Harun dalam menghadapi Bani Israil yang tidak mempercayainya. Padahal Allah sendirilah yang mengirim Nabi Harun untuk bersama dengan Nabi Musa.

Demikian pula kebersamaan Rasulullah Muhammad saw dengan Abu Bakar As Shiddiq. Salah satu peristiwa yang paling menarik adalah saat akan hijrah dari Makkah ke Madinah. Rasulullah tidak langsung menuju ke Makkah sebagaimana umat beliau. Sebab kalau beliau bersama umatnya, tentu musuh dengan mudah akan menangkapnya. Oleh karenanya, beliau bersembunyi di dalam gua bersama dengan Abu Bakar Asyiddiq. Kebersamaan antara Nabi atau rasul dengan sahabatnya. Mereka inilah yang membantu dalam rangka syiar. Itu pula yang mencerminkan Ma’iyyah.

Beberapa ulama membagi Ma’iyyah menjadi dua bagian. Pertama, Al Ma’iyyah al ‘Ammah, yaitu Allah selalu bersama dengan seluruh manusia. Baik mukmin maupun kafir, yang taat maupun durhaka, laki-laki maupun perempuan. Intinya Allah selalu bersama hamba-Nya. Kebersamaan Allah ini yang kita sebut sebagai muraqabatullah (pengawas Allah) dan ichsanullah (kebaikan Allah). Siapa saja akan selalu diawasi dan mendapatkan ichsan.

Kedua, Al Maiyyah al Khashah. Tidak semua manusia merespon kebaikan Allah. Bahkan banyak yang tidak menyadari bahwa setiap detik, kita dalam pengawasan Allah. Akibatnya, banyak yang berbuat sesuatu, tapi merugikan dirinya sendiri, merugikan manusia dan kemanusiaan. Demikian pula banyak yang tidak berterima kasih atas nikmat yang diberikan Allah. Padahal Allah adalah Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar. Dengan ketiga sifat ini saja, Allah mampu mengontrol perilaku manusia.

Orang-orang semacam ini tidak akan mendapatkan ma’iyyah secara khusus dari Allah. Artinya, mereka tidak akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah. Hanya orang-orang yang berimanlah yang mampu menangkap muraqabatullah (pengawas Allah) dan ichsanullah (kebaikan Allah) secara baik dan benar. Mereka selalu mendapatkan kebaikan yang tidak terhingga. Atas kesadaran inilah, hingga mereka mampu tampil di dunia ini sebagi umat yang terbaik.

Sumber bacaan : Kuliah Aqidah Islam karya Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc.