Malu Mencantumkan Sumber Bacaan

Tidak mungkin seorang penulis yang hebat datang dengan tangan kosong. Penulis yang hebat tentu berangkat dari pembaca yang hebat. Hamka pernah berujar, untuk menulis sebuah artikel, didahului dengan membaca sepuluh buku. Dalam tulisannya, beliau sering mencantumkan sumber aslinya. Tulisan orang lain diperlukan untuk memperkuat narasi. Pendapat orang lain digunakan untuk menambah data.

Seringkali kita menemukan sebuah tulisan yang bagus. Namun setelah ditelusuri ternyata sumbernya dari orang lain. Penulis itu tanpa sadar menjiplak atau copas tanpa menyebutkan asal mula tulisannya. Penulis dengan ringan, tidak mengapresiasi sumbernya. Penyebabnya mungkin saja takut, malu, atau lalai.

Tidak mencantumkan sumber aslinya, sebenarnya petaka bagi dunia literasi. Apalagi di lingkungan akademisi. Penulis yang dengan sengaja menafikan referensi, bukan saja menjatuhkan martabat dirinya, namun ia telah melunturkan budaya akademik dan tidak menghargai karya orang lain.

Ajib Rosidi berujar “Plagiat adalah pengumuman sebuah karya pengetahuan atau seni oleh ilmuwan atau seniman kepada publik atas semua atau sebagian besar karya orang lain tanpa menyebutkan nama sang pengarang yang diambil karyanya. Sikap ini agar publik mengakui bahwa karya yang diambil sebagian atau semua karya orang lain itu sebagai karyanya.” Penjiplakan karya identik dengan istilah plagiat, yang artinya mencuri.

Wikipedia.org mengartikan kata plagiat dengan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Kalau hanya mencantumkan sumber aslinya, Insya Allah tidak berat. Bahkan tulisan akan semakin berbobot. Karena menambah referensi atau data dari sumber lain, tulisan menjadi kuat. Tak peduli jenis tulisannya. Apakah bentuk laporan, kolom, berita, atau feature.

Tulisan yang tersebar di blog, merupakan sarana untuk menuangkan ide-ide dari sang empunya. Mereka akan menulis apa yang dilihat, ataupun apa yang dirasakan. Untuk penulis pemula, mungkin belum mengetahui karakteristik kepenulisan. Dapat saja mereka mencomot tulisan orang lain, baik sebagian kecil ataupun keseluruhan. Mereka yang seperti ini perlu dicerahkan. Diberi informasi, hati-hati dalam menulis, karena selalu diawasi oleh Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menghargai karya orang lain, menghormati jerih payah orang lain sama seperti kita menghargai diri kita sendiri.