Manusia Merdeka

Berkah Jum’at

Dahulu, sekitar tahun enam puluhan sampau tujuh puluhan, merdeka selalu dikaitkan dengan penjajahan. Karena memang Bangsa Indonesia belum lama merayakan kemerdekaanya. Sehingga segala sesuatunya masih erat hubungannya dengan peristiwa kemerdekaan, Apalagi saat melaksanakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Nuansa merdeka demikian kental.

Momen terpenting dari kemerdekaan adalah lepas dari ketergantungan. Baik secara fisik maupun psikhis. Mungkin, secara fisik kita terbebas dari belenggu dan ketergantungan. Namun secara mental masih ada ikatan, meskipun hanya berupa jalur-jalur seperti saraf. Kecil. Anda dapat mempercayai omongan orang lain yang mengatakan, akan melipatgandakan uang yang Anda miliki dalam waktu kurang dari lima menit. Apabila Anda memeprcayai pada saat itu, Anda sebenarnya telah terikat secara emosional dengan orang lain.

Contoh lain. Ada seorang pesulap apabila mengucapkan mantra tertentu, maka Anda akan menjadi bahagia seketika. Demikian pula dengan mantra yang lain, maka Anda akan merasa sedih saat itu juga. Apabila Anda menuruti apa yang menjadi keinginan pesulap, maka sesungguhnya hati Anda telah tergadai oleh orang lain. Anda belum merdeka.

Setiap mendengar khutbah jum’at, khatib selalu mengajak kepada taqwa, yaitu melaksanakan apa yang diperintah oleh Allah, dan meninggalkan yang dilarang. Mencintai harta yang diperoleh dengan cara yang halal, adalah bentuk kewajaran. Menyayangi keluarga dalam batas-batas tertentu adalah tindakan yang mulia. Tetapi, harta dan keluarga yang kita sayangi, satu persatu lepas dari genggaman, dan kita merasa sedih adalah sikap manusiawi. Sebagai orang yang beriman dan bertaqwa, itulah yang telah digariskan oleh Allah swt.

Kita tak perlu mencintai apa yang dimiliki. Mencintai harta benda, anak dan keluarga, tapi jangan sampai kebahagiaan mengganggu kehidupan. Apa yang kita miliki adalah penting, tapi kalau pun hilang sama sekali tak mengganggu kebahagiaan Begitu juga dengan peran-peran yang kita miliki, seperti menjadi direktur, pemimpin, pejabat, dan lain-lain. Suatu ketika ia akan hilang.

Jangan kita sampai putus dari rahmat Allah, dengan meratapi, apa yang telah menjadi ketentuan Allah. Orang merdeka adalah orang yang hatinya selalu tertaut dengan sang Khalik. Orang merdeka, yang selalu memiliki prinsip “aku milik-Nya, dan aku akan kembali kepada-Nya.”