Manusia sebagai Hamba dan Khalifah

Jum’at Berkah

Ketika Adam as diangkat menjadi khalifah, seketika itu pula Allah menyuruh makhluk yang lain untuk tunduk kepada Adam. Pengakuan manusia sebagai makhluk yang terbaik disaksikan langsung oleh sang khalik. Meskipun sebenarnya malaikat sempat ragu atas kemampuan manusia. Malaikat menilai pada dirinya sendiri sebagai makhluk yang paling suci, paling kuat beribadah. Mereka juga merasa paling patuh, selalu bertasbih, memuji dan menyucikannya. Namun, semua itu ditepis oleh Allah. Karena Allahlah yang paling mengetahui segalanya.

Dibalik status manusia yang terhormat itu, tersimpan tugas yang amat berat. Amanah yang akan diemban melebihi bumi dan isinya. Setiap seminggu sekali, umat Islam selalu diingatkan oleh khatib untuk beriman dan bertaqwa. Beriman adalah percaya bahwa tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Bertaqwa mengandung kepasrahan secara total, bahwa manusia akan melaksanakan yang diperintah Allah, dan meninggalkan yang dilarang-Nya. Tujuan bertaqwa adalah mencapai keridhaan.

Bila dua kutub itu kita tarik, maka sesungguhnya manusia mempunyai tugas sebagai hamba dan khalifah. Hamba berarti mengabdikan diri, menyerahkan sepenuhnya kepada sang pencipta. Meniti di jalan-Nya agar tidak terpuruk. Sedangkan khalifah artinya mengatur, memimpin, sesuai dengan keinginan pemilik. Allah memberi amanah kepada manusia untuk menjadi suri tauladan bagi makhluk yang lain. Kepemimpinan ini sebagai salah satu jalan agar kita dibimbing. Diberi akal untuk mengatur kehidupan sesuai dengan jamannya.

Kehidupan ini memang seperti menyususuri sebuah jalan untuk mencapai tujuan. Perjalanan ini membawa sebuah misi penting yang telah diamanahkan oleh Allah. Oleh karenanya, setapak demi setapak manusia harus konsentrasi secara penuh. Jangan sampai terlena sedikitpun. Karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia dan jin melainkan agar supaya beribadah kepada Allah. Para mufasirin sepakat, bila surat Adz-dzariyat ayat ke 56 itu bermaksud agar manusia tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.

Penciptaan manusia adalah rencana besar Allah. Allah maha tahu bahwa pada diri manusia terdapat sisi negatif sebagaimana yang dikhawatirkan malaikat, tetapi aspek positifnya jauh lebih banyak. Oleh karenanya, kepercayaan ini harus dipikul bersama dengan baik. Menjaga keseimbangan kehidupan di bumi ini. Perilaku yang mencelakakan diri sendiri harus dikikis. Kepercayaan ini tetap dijaga agar sang pemilik segalanya tidak murka.