Masih Percaya pada Dukun dan Peramal?

Ramadhan 1443 H – Hari Ketigabelas

Beberapa waktu yang lalu, sequel dari peristiwa di area balap motor Mandalika cukup menyita perhatian. Mbak Rara, demikian dia disapa, sempat viral. Bukan hanya bagi penggemar kuda besi pacu, tapi kalau sudah masuk kawasan media sosial jangkauannya semakin luas. Dia bukanlah pemotor. Namun karena salah satu aksinya, ingin menghentikan hujan.

Pawang hujan, dalam khasanah budaya kita sudah dikenal lama. Nenek moyang, sering memakai jasa pawang hujan agar pekerjaannya tidak terganggu. Orang pintar, demikian sebagian menyebutkan, akan selalu dibutuhkan orang lain selama masih percaya, bahwa ada orang yang mampu menolak hujan. Dengan menggunakan mantra-mantra tertentu, dan bantuan barang-barang tertentu, diyakini tidak akan terjadi hujan. Atau hujan segera reda setelah mendapat bisikan mantra. Ada yang berhasil ada yang gagal.

Saat masih kecil (kira-kira seumuran sekolah dasar), ada semacam kepercayaan yang beredar di masyarakat. Termasuk kami yang masih anak-anak. Katanya, kalau mau bepergian bawahlah tiga kerikil yang kering, masukkan ke dalam saku atau selipkan pada ujung baju, kemudian diikat yang kencang. Saya membuktikan ada yang berhasil, tapi lebih banyak gagalnya.

Sewaktu duduk di bangku SMP, saya mendengar penjelasan guru geografi, tentang hujan. Indonesia hanya mengenal dua musim, yaitu musim kemarau dan hujan. Tidak seperti belahan bumi lainnya, yang mengenal empat macam musim. Memasuki bulan april, berarti musim kemarau tiba, dan akan berakhir sampai pada bulan oktober. Separo tahun yang lain berarti bumi menerima derasnya hujan. Saya tidak ingat betul, kala membawa tiga kerikil kering tersebut masuk bulan apa.

Bagi kami, saya dan teman-teman, kepercayaan seperti itu hanya sebatas ikut-ikutan. Tidak ada anak yang berani berseberangan pendapat dengan orang tua, apalagi masuk dalam lingkup mitos. Saya dan teman-teman demikian percaya diri melakukan ritual semacam itu. Karena kalau mau bertepatan bepergian, inginnya lancar, tanpa kehujanan.

Di bagian lain, kami mengikuti ngaji rutin tentang masalah-masalah keseharian yang dikaitkan dengan agama. Ada bermacam-macam tema yang disuguhkan oleh ustadz. Sampai suatu ketika, masuk pada masalah Ketauhidan. Kata ustadz, semua yang dilakukan manusia harus mengacu pada ketentuan Allah. Sebab Dia yang mengatur segalanya di dunia ini. Manusia dilarang tunduk selain Allah. Termasuk menolak hujan.

Kata ustadz, jangankan masalah hujan yang demikian besar. Orang yang menderita sakit ringan saja, tak lepas dari pengawasan Allah. Semut yang lalu lalang di sekitar kita, juga tak luput dari kehendak Allah. Oleh karenanya, kita tidak diperkenankan untuk menolak rizki pemberian Allah. Manusia hanya dapat mengantisipasi sejauh yang diperkenankan. Bila tidak ingin kehujanan, bawalah payung, atau persiapkan daun pisang. Kita diajarkan untuk tidak percaya pada dukun atau peramal, bila cara-caranya bertentangan dengan kehendak-Nya.