Mathematical Resilience

Sudah jamak kita ketahui bersama bahwa kemampuan matematika siswa dalam bernalar termasuk katagori rendah. Hal ini terbukti pada hasil Trens in International Mathematic and Science Study (TIMSS). Bernalar merupakan kegiatan inti dari pelajaran matematika, disamping juga ketrampilan untuk menghafal perhitungan operasi dasar.

Hasil penelitian yang dilakukan Cahya Amalia Chusna dan kawan-kawan yang tergabung dosen Pacasarjana Universitas Negeri Semarang, menemukan bahwa terampil dalam bidang matematika memang tidak hanya dipengaruhi oleh nalar belaka. Ada faktor lain yang juga turut andil bagian, yaitu sikap. Kemampuan seseorang dalam menyerap pengetahuan, berawal dari sikapnya. Apabila ia memiliki sikap yang terbuka dan siap untuk menerima informasi dalam berbagai bentuk, maka sebenarnya ia telah bersikap positip. Demikian juga sikap-sikap lain yang menunjang untuk memperoleh progresifitas.

Kemampuan penalaran siswa dapat diasah apabila siswa memiliki sikap positif, tekun dan gigih dalam menghadapi kesulitan matematika, khususnya dalam menyelesaikan soal-soal yang tidak rutin. Sikap tekun dan kegigihan siswa dalam menghadapi kesulitan matematika disebut mathematical resilience atau resiliensi matematis.

Resiliensi dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu sikap internal dalam memengaruhi keberhasilan seseorang belajar matematika. Siswa yang memiliki resiliensi yang kuat akan mengatasi hambatan dalam belajar matematika dan mampu menyelesaikan soal-soal matematika yang sulit, karena siswa tersebut pantang menyerah dan menganggap belajar matematika lebih dari apa yang didapatkan di kelas.

Hambatan dalam memelajari matematika, mestinya tidak perlu terjadi andai seorang siswa memiliki sikap resiliensi. Sikap ini memiliki potensi untuk menumbuhkan agar seseorang dapat meraih keberhasilan dengan cara beradaptasi. Menanam sikap pantang menyerah dan berdamai dengan lingkungan, harus selalu dikondisikan saat di kelas, maupun di rumah. Untuk menjaga agar iklim resiliensi selalu terhidang, maka faktor-faktor berikut selalu ditumbuhkan.

a) percaya bahwa kemampuan otak dapat ditumbuhkan;

b) pemahaman personal terhadap nilai-nilai matematika;

c) pemahaman bagaimana cara bekerja dalam matematika; dan

d) kesadaran akan dukungan teman sebaya, ICT, internet, dan lain-lainnya.

Secara personal, seorang guru dapat mengenali siswa yang memiliki karakter di atas. Karakter tersebut mungkin hanya dimiliki oleh beberapa anak. Oleh karenannya, sebagai seorang guru memerankan diri sebagai seorang manajer. Kapan memberi informasi secara masal, kelompok ataupun secara pribadi.

Menurut Garton (2013) siswa yang memiliki resiliensi matematis yang positif mempunyai ciri: adaptif, mampu mengatasi ambiguitas, menyukai masalah dan tantangan, mampu memecahkan masalah secara logis dan fleksibel, mencari penyelesaian secara kreatif dalam menghadapi tantangan, menyadari perasaan C. A. Chusna, Rochmad, A. P. B. Prasetyo 159 diri, memiliki jiwa sosial kuat dan membantu orang lain. Dengan menanamkan resiliensi matematis pada diri siswa, memungkin siswa tersebut mampu mengatasi hambatan dalam belajar matematika dengan sikap positif.