Memberi Nasehat dan Kritik

Ramadhan 1443 H – Hari Kesembilanbelas

“Siapa saja yang tidak memerintah dengan apa yang Allah turunkan (al Qur’an), mereke itulah kaum zalim. (al Maidah : 45)

Sewaktu Rasulullah melakukan haji wada’ beliau berpesan agar selalu meningkatkan  ketakwaan dan ketaatan kepada Allah. Bagi orang beriman, meningkatkan keimanan kepada Allah dan RasulNya, adalah segala-galanya. Tidak ada sebuah ikatan yang melebihi cintanya kepada Allah dan RasulNya.

Saling menasehati, saling melakukan koreksi tetap berpegang pada al Qur’an dan as Sunnah. Keduanya memberikan menjamin untuk meraih kehidupan yang lebih berbahagia. Siapapun yang tetap istiqomah berpegang pada keduanya, maka imbalannya adalah tidak akan tersesat selama-lamanya.

Memberi nasehat kepada orang lain adalah dalam rangka meraih ketaqwaan. Tidak peduli dari mana mereka berasal. Memberi advis, tak lain dengan tujuan agar kehidupan lebih selaras dan harmoni. Memakmurkan bumi agar lingkungan dapat terjaga dengan nyaman merupakan tanggung jawab semua manusia, tanpa memandang agamanya.

Arti pentingnya memberi nasehat, ada lima. antara lain : Pertama, manusia merupakan tempatnya salah dan lupa. Ini adalah fitrah. Justru kalau manusia tidak pernah lupa, maka hidupnya akan tersiksa. Pun demikian, kita juga tidak boleh menjadi pelupa. Kedua, kita adalah umat Rasulullah Muhammad saw. Pewaris para nabi, maka kita perlu saling menasihati. Sebagaimana sabda beliau “sampaikanlah walau satu ayat”.

Ketiga, kita tidak boleh merasa paling tahu segalanya. Berlaku sombong itu adalah perilaku setan. Tetap rendah hati agar orang lain respect terhadap kehadiran kita. Sebuah pepatah mengatakan ‘di atas langit, masih ada langit’. Keempat, kita memerlukan nasihat karena iman manusia tidak stabil. Grafiknya bergelombang. Kadang diatas, kadang dibawah. Kata hati sendiri berasal dari kata ‘qalb’ yang artinya berubah-ubah, berganti-ganti, tidak tetap. Selalu instropeksi diri adalah sikap yang baik. Kelima, kita memerlukan nasihat agar kita selalu tertaut dengan Allah. Barang siapa hatinya selalu terhubung denganNya, maka segala urusan akan selesai dengan sendirinya. Semuanya lancar tanpa halangan yang berarti.

Memberi kritik juga sama penting artinya. Bahkan kritik dapat membangun jiwa agar tetap terjaga. Tanpa kritik, mungkin kehidupan seseorang akan stagnan. Tidak memperoleh prestasi. Tanpa kritik, mungkin seseorang akan mengalami arogansi, kesombongan dan keangkuhan. Kritik yang didapatkan dari orang lain memungkinkan seseorang akan meningkatkan kualitas diri.

Ada dua macam orang saat menerima kritik. Marah atau menerima masukan. Marah, tentu tak akan menyelesaikan masalah. Menerima dengan sikap legowo justru akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Orang menerima kritik dapat pula sebagai bahan evaluasi, agar kelak tidak akan melakukan hal yang sama. Orang menerima kritik justru akan berterima kasih, karena secara tidak langsung ia telah memperoleh wawasan.