Membina Keluarga dengan Konsep al Fatihah (1)

Jum’at Berkah

Oleh: DR. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si.

Orang tua adalah kunci utama keberhasilan anak-anak. Orang tualah yang pertama kali dipahami anak sebagai orang yang memiliki kemampuan luar biasa di luar dirinya. Dan dari orang tualah anak pertama kali mengenal dunia. Melalui mereka anak mengembangkan seluruh aspek pribadinya. Dalam hal ini orang tua tidak hanya yang melahirkan anak, melainkan juga orang tua yang mengasuh, melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak.

Secara rinci, menurut Hibana S. Rahman, pentingnya peran orang tua bagi pendidikan anak adalah :

Pertama, orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak.

Melalui orang tua, anak belajar kehidupan dan mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Pada masa kanak-kanak awal, orang tua memiliki otoritas penuh untuk memberikan stimuli dan layanan pendidikan bagi anaknya tanpa diganggu pihak-pihak lain. Disinilah anak berada pada otoritas orang tuanya secara penuh, sehingga apapun yang diterima anak baik yang didengar, dilihat  dan dirasakan merupakan pendidikan yang diterima anak yang untuk selanjutnya diterapkan dalam konteks kehidupan yang lebih luas.

Kedua, orang tua adalah sumber kehidupan bagi anak.

Anak dapat hidup karena pemeliharaan dan dukungan orang tua. Orang tua yang  tidak memberikan kehidupan bagi anak, maka akan sulit bagi anak untuk bertahan hidup. Sebelum anak sampai kepada tingkat kemandirian, maka orng tualah yang bertanggung jawab terhadap kehidupan anak, sekaligus menyiapkan anak untuk dapat mandiri baik secara fisik material maupun mental spiritual.

Ketiga, orang tua adalah tempat bergantung bagi anak.

Kehidupan anak sangat tergantung kepada orang lain. Sejak dalam kandungan, anak tergantung pada ibunya melalui plasenta. Setelah lahir, ketergantungan itu juga semakin besar. Akan terbentuk seperti apakah anak itu, tergantung pada bagaimana orang tua memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan anak. Bagi anak, orang tua adalah tempat bergantung, baik secara fisik maupun mental-spiritual. Kalaulah secara fisik anak telah lepas ketergantungannya dengan orang tua, namun secara mental-spritual ketergantungan itu akan sangat sulit untuk dilepaskan.

Keempat, orang tua merupakan sumber kebahagian bagi anak.

Idealnya anak merasakan puncak kebahagiaan ketika berada di pangkuan orang tuanya. Tidak ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaan anak yang mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Sesungguhnya tidak ada alasan bagi orang tua untuk bersikap negative terhadap anak. Anak adalah fitrah, suci. Oleh karena itu, anak berhak untuk mendapatkan kasih sayang yang suci dan tulus dari orang tuanya.

Kita shalat sehari semalam, minimal tujuh belas rekaat, ditambah dengan sholat nawafilnya dengan sekian rakaat. Dalam tiap rakaat pasti kita baca sebuah surat yang sering dibaca berulang-ulang, yang sesuai dengan nama surat, yaitu Surat Al Fatihah. Banyak yang dapat digali dari surat ini, sampai-sampai seorang musafir Indonesia membuat sebuah buku tafsir surat Al Fatihah dengan nama Samudera Fatihah. Barangkali saking luasnya yang dapat ditafsir dan dijelaskan dari surat ini. Dan surat ini merupakan muqadimah dari Al Qur’an, sekaligus sebagai sebuah ringkasan yang LUAR BIASA padat makna dari surat-surat yang lainnya, dan LUAR BIASA padat makna akan sendi-sendi kehidupan manusia. (bersambung)