Memilih Pemimpin (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Keduapuluhenam

Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu”. (H. R. Bukhari Muslim)

Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba  mengejar kesenangan seperti : jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya  sebagai sebuah obsesi. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat  dikandung badan, kalau tidak merasakan menjadi orang penting. Orang yang selalu dihormati, disanjung, dihargai dalam masyarakat.

Jabatan itu, baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang sebagai sebuah “aset”, karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekuensi kepada  keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian semua orang. Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai kepada artis.

Kalau kita runut, Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih  dan menjadi seorang pemimpin. Yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan dalam pandangan al-Qur’an bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara mereka dengan Allah SWT.

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah SWT, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat.

Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah SWT di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

Kepemimpinan juga menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Pengambilan sikap dan keputusan tidak hanya tergantung kepada juru bicara, sekalipun ia tidak ditunjuk sebagai juru bicara, akan tetapi  memposisikan sebagai pembisik padahal sikap yang bijak dalam Islam, ketika kita mendapat laporan, kita harus tabayyun agar tidak salah dalam mengambil keputusan.

Diantara bentuk kepemimpinan adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. (bersambung)