Menempatkan Malu yang Tepat (1)

Jum’at Berkah

“Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan”

(Hadits riwayat Muslim dan Al-Bukhari)

Setiap agama mengandung ajaran tentang akhlak yang merupakan ciri khasnya. Akhlak dalam beragama sangat diperhatikan. Islam menekankan akhlak malu karena rasa malu itu membuahkan perkara yang besar dan akhlak yang mulia.

Rasa malu sangat penting untuk menjaga diri dari perbuatan yang tercela. Orang yang memiliki malu tidak akan mengikuti perbuatan yang dapat mencelakakan dirinya sendiri. Meskipun orang lain tidak melihat, namun ia merasa malu karena Allah Maha Mengetahui. Manusia seperti ini memiliki kehormatan, harga diri dan akhlak yang mulia.

Rasulullah SAW bersabda “Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang iman tertinggi adalah mengucapkan La ilaha illallah, dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan. Rasa malu merupakan cabang dari iman.”

Apabila seseorang telah hilang rasa malu, maka secara bertahap perilakunya akan memburuk, dan terus meluncur ke bawah hingga menjadi hina. Sesungguhnya Allah apabila hendak membinasakan seseorang, Dia akan mencabut rasa malu.

Bagaimana kalau seseorang memiliki malu untuk berbicara yang benar, atau malu untuk mencegah keburukan? Menurut Syaikh Dr. Abdullah bin Mahmud Al-Furaih, bahwa malu tersebut bukan malu yang sesungguhnya, namun sebagai kiasan saja. Tapi sering juga disebut malu.

Al haya’ (malu) sebagai kelengkapan hati, seperti takut, cemas, berani, percaya diri dan lain-lain. Malu sebagai ungkapan hati karena sikap menahan diri, takut mendapat ejekan. Kata al Haya’ disebutkan Alquran sebanyak dua kali.

Pertama pada surat al Baqarah: 26 ”Sesungguhnya Allah tidak segan (la yastahyi) membuat perumpamaan berupa nyamuk …”. Dalam ayat ini, kata yastahyi berarti melakukan perbuatan yang merupakan hak. Kedua tertera dalam surat Al Qashash: 25 ”Kemudian datanglah kepada Musa, salah seorang dari kedua wanita itu berjalan agak kemalu-maluan…” Kata agak kemalu-maluan dalam ayat ini bukan berarti malu mengerjakan yang baik, tetapi karena alasan tata krama dan kesopanan.

Al-Jurjani, membagi malu menjadi dua. Pertama, malu yang bersifat pribadi, yaitu sifat malu yang diletakkan oleh Allah pada setiap orang, misalnya rasa malu membuka aurat. Kedua adalah malu yang bersifat imani, seperti keseganan seseorang yang beriman melakukan perbuatan dosa karena takut kepada Allah SWT. (bersambung)